Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 November 2012

Imam Bukhari Rahimahullaah

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari. Lahir pada hari Jumat tanggal 13 Syawwal 194 H. Beliau lahir di rumah ayahandanya yang terkenal sebagai seorang ulama yang cerdas dan zuhud (tidak terikat dengan urusan keduniaan). Yaitu di daerah Bukhara yang kini termasuk dalam wilayah Rusia. Imam Bukhari melanglang buana dalam menuntut ilmu ke beberapa negara antara lain Hijaz (Makkah-Madinah), Syam (kini disebut Siriya) , Mesir dan Iraq. Beliau wafat pada usia 62 tahun dan tidak dikaruniai anak lelaki satupun. Kitab karangan beliau Shahih Bukhari, adalah kitab yang dikatakan oleh para ulama sebagai Kitab yang paling shahih setelah Alquran. Sedangkan nama lengkap kitab beliau adalah Aljaami`us Shahiihul Musnadul Mukhtashar Min Hadiitsi Rasuulillaah SAW Wasunanihi Wa-ayaamihi .

Tema yang dibahas dalam kitab Shahih Bukhari adalah khusus mencantumkan hadits-hadits shahih yang berstandar syarat keshahihan menurut kaedah beliau sendiri yang sangat ketat dan berat disbanding syarat-syarat yang diterapkan oleh para ulama ahli hadits lainnya. Sedangkan arti Musnad yang maksud oleh Imam Bukhari adalah semua hadits yang dicantumkan itu bersanad yang muttashil (bersambung) kepada Raulullah SAW. Sanad sendiri berarti silsilah guru atau perawi hadits mulai dari gurunya Imam Bukhari secara estafet kepada kakek gurunya dan seterusnya sampai kepada Rasulullah SAW. Imam Bukhari hanya mencantumkan hadits-hadits yang bersanad Shahih sebagaimana pengakuan beliau : Aku tidak mencantumkan di dalam kitab Aljami` ini kecuali hanyalah yang shahih saja.

Pengakuan Imam Bukhari ini telah diteliti oleh para ulama ahli hadits lainya, maka merekapun bersepakat mengatakan bahwa paling shahihnya kitab di dunia ini setelah Alquran adalah kitab Shahih Bukhari, bahkan jika ada seorang suami mengatakan kepada istrinya : Hukum cerai aku jatuhkan kepadamu wahai istriku, jika ada satu hadits saja dalam Kitab shahih Bukhari ini yang ternyata tidak shahih…! Para ulama bersepakat bahwa dalam perkawinan suami istri tersebut tidak terjadi hukum cerai, karena memang tidak ada di dalamnya satu haditspun selain shahih. Pengakuan ini, disamping sesuai dengan pengakuan Imam Bukhari sendiri, juga para ulama telah mengadakan penelitian dengan ketat terhadap isi kitab Shahih Bukhari, dengan kesimpulan bahwa semua yang ada di dalamnya benar-benar shahih yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk ini pula, non muslim dari kalangan orientalis, serta kalangan aliran-aliran sesat yang akan merusak ajaran syariat Islam, mereka mengambil jalan pintas dengan menciptakan keragu-raguan kepada umat Islam, agak tidak mudah percaya terhadap keshahihan kitab Shahih Bukhari.

Jika strategi menciptakan keragu-raguan terhadap keshahihan kitab Imam Bukhari ini sudah terwujud dalam diri seorang muslim, maka akan dengan mudah kaum orientalis dan kalangan aliran sesat untuk membalikkan aqidah si muslim itu, sehingga tanpa terasa dan dengan mudah ia akan keluar dari agama Islam.
Semoga bermanfaat.
Oleh: Ustadz H. Luthfi Bashori

Rabu, 08 Februari 2012

Pengumandang Adzan Pertama

Siapakah gerangan lelaki yang ketika didera siksa dahsyat Kafir Quraisy, hanya kata-kata “ Ahadun-Ahad “ yang keluar dari mulutnya, Siapakah pula lelaki yang pada hari-hari akhirnya mengulang-ulang kata-kata, “Besok kita akan bertemu dengan para kekasih (Muhammad dan para sahabatnya)” ?
Dialah Bilal Bin  Rabah, Semoga Allah meridloinya, lelaki yang lahir di Mekah, sekitar 43 tahun sebelum hijrah itu tumbuh di Mekah sebagai seorang hamba sahaya milik anak-anak yatim keluarga Bani Abdud Dar yang berada di bawah asuhan Umaiyah bin Khalaf.
Ketika pada masa permulaan datangnya Islam, Bilal  masuk dalam deretan kelompok yang pertama-tama memeluk Islam (Assabiqunal Awwalin). Taslimnya Bilal saat di atas permukaan bumi baru   hanya ada segelintir pemeluk Islam, Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar Sidik, Ali bin Abi Talib, Ammar bin Yasir dan ibunya; Sumaiyah, Shuhaib Ar-Rumi dan Miqdad bin Aswad.
Bilal adalah salah seorang sahabat Nabi yang paling banyak merasakan siksa dan kekerasan kaum musyrikin Quraisy. Para pemeluk Islam saat itu, rata-rata mempunyai pelindung dari keluarga mereka kecuali dia, Ammar bin Yasir beserta bapak dan ibunya, dan Shuhaib. Karenanya mereka ini banyak menjadi sasaran kesewenang-wenangan kaum musyrikin Quraisy.
Pada suatu hari, ketika matahari di atas kepala dan pasir Mekah seolah mendidih karena sangat panasnya, Umaiyah bin Khalaf dan sekelompok kaum musyrikin melepas bajunya, lalu memakaikan baju besi dan menjemurnya di terik matahari. Selama itu tidak henti-hentinya dia dicambuki dan disuruh mencela Nabi Muhammad saw.
Tetapi selama itu juga, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Bilal kecuali, “Yang Mahaesa! Yang Mahaesa! “ Ahadun-Ahad “
Bila mereka sudah lelah menyiksanya, Umaiyah mengikat lehernya dengan tali besar lalu menyerahkannya kepada anak-anak untuk mereka seret berkeliling kota Mekah.
Setelah itu Bilal dimerdekakan oleh Abu Bakar Sidik ra. setelah dia beli seharga 9 uqiah emas (1 uqiah = 31, 7475). Umaiyah bin Khalaf menjualnya mahal, dengan harapan Abu Bakar enggan membelinya, padahal dalam hatinya dia mengatakan, “Jika dia membelinya 1 uqiah pun akan saya jual.” Sebaliknya Abu Bakar juga mengatakan dalam hati, “Jika tidak mau menjualnya di bawah harga 100 uqiah pun akan saya beli.”
Hal itu membuat Bilal gembira sekali. Dia memulai fase hidup baru. Di kemudian hari dia ikut hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin yang lain.
Muazin Rasul saw. sepanjang hidup beliau. Suatu ketika, setelah Nabi wafat, dia mengumandangkan azan, tetapi setelah sampai pada kata-kata, “Asyhadu anna Muahammadan Rasulullah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah)” dia menangis terisak-isak dan meminta kepada Abu Bakar agar dibebaskan dari tugas itu. Dia tidak mampu lagi melakukannya setelah Nabi tidak ada.
Bilal termasuk anggota delegasi dakwah Muslimin pertama yang berangkat ke Syam, dia menetap di Darya (dekat Damaskus) hingga Umar bin Khatab datang ke Damaskus dan menyuruhnya untuk mengumandangkan azan kembali. Umar sangat mencintai dan menghormatinya, dia pernah mengatakan, “Abu Bakar tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).” Setelah suara azan Bilal mengumandang Umar dan seluruh yang hadir menangis terisak-isak. Mereka teringat saat-saat mendengarkan suara itu pada saat Nabi masih hidup.
Bilal berpulang ke rahmatullah setelah pada hari-hari akhirnya mengulang-ulang kata-kata, “Besok kita akan bertemu dengan para kekasih (Muhammad dan para sahabatnya)”. Semoga Allah meridlai dan memberinya pahala yang baik atas kontribusi yang dia persembahkan kepada Islam dan Muslimin.

Sudut Pandang :
Lahir dan pertumbuhannya:
Beliau lahir di Mekah, sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Bilal tumbuh di Mekah sebagai seorang hamba sahaya milik anak-anak yatim keluarga Bani Abdud Dar yang berada di bawah asuhan Umaiyah bin Khalaf.
Pada saat datangnya Islam, Bilal termasuk dalam kelompok yang pertama-tama memeluk Islam. Dia memeluk Islam pada saat di atas permukaan bumi hanya ada segelintir pemeluk Islam. Yaitu; Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar Sidik, Ali bin Abi Talib, Ammar bin Yasir dan ibunya; Sumaiyah, Shuhaib Ar-Rumi dan Miqdad bin Aswad.
Kesabarannya ketika disiksa:
Bilal adalah salah seorang sahabat Nabi yang paling banyak merasakan siksa dan kekerasan kaum musyrikin Quraisy. Para pemeluk Islam saat itu, rata-rata mempunyai pelindung dari keluarga mereka kecuali dia, Ammar bin Yasir beserta bapak dan ibunya, dan Shuhaib. Karenanya mereka ini banyak menjadi sasaran kesewenang-wenangan kaum musyrikin Quraisy.
Pada suatu hari, ketika matahari di atas kepala dan pasir Mekah seolah mendidih karena sangat panasnya, Umaiyah bin Khalaf dan sekelompok kaum musyrikin melepas bajunya, lalu memakaikan baju besi dan menjemurnya di terik matahari. Selama itu tidak henti-hentinya dia dicambuki dan disuruh mencela Nabi Muhammad saw.
Tetapi selama itu juga, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Bilal kecuali, “Yang Mahaesa! Yang Mahaesa!” Bila mereka sudah lelah menyiksanya, Umaiyah mengikat lehernya dengan tali besar lalu menyerahkannya kepada anak- anak untuk mereka seret berkeliling kota Mekah.
Setelah itu Bilal dimerdekakan oleh Abu Bakar Sidik ra. setelah dia beli seharga 9 uqiah emas (1 uqiah = 31, 7475). Umaiyah bin Khalaf menjualnya mahal, dengan harapan Abu Bakar enggan membelinya, padahal dalam hatinya dia mengatakan, “Jika dia membelinya 1 uqiah pun akan saya jual.” Sebaliknya Abu Bakar juga mengatakan dalam hati, “Jika tidak mau menjualnya di bawah harga 100 uqiah pun akan saya beli.”
Hal itu membuat Bilal gembira sekali. Dia memulai fase hidup baru. Di kemudian hari dia ikut hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin yang lain.
Kelebihan-kelebihannya:
Muazin Rasul saw. sepanjang hidup beliau. Suatu ketika, setelah Nabi wafat, dia mengumandangkan azan, tetapi setelah sampai pada kata-kata, “Asyhadu anna Muahammadan Rasulullah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah)” dia menangis terisak-isak dan meminta kepada Abu Bakar agar dibebaskan dari tugas itu. Dia tidak mampu lagi melakukannya setelah Nabi tidak ada.
Bilal termasuk anggota delegasi dakwah Muslimin pertama yang berangkat ke Syam, dia menetap di Darya (dekat Damaskus) hingga Umar bin Khatab datang ke Damaskus dan menyuruhnya untuk mengumandangkan azan kembali. Umar sangat mencintai dan menghormatinya, dia pernah mengatakan, “Abu Bakar tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).” Setelah suara azan Bilal mengumandang Umar dan seluruh yang hadir menangis terisak-isak. Mereka teringat saat-saat mendengarkan suara itu pada saat Nabi masih hidup.
Wafatnya:
Bilal berpulang ke rahmatullah setelah pada hari-hari akhirnya mengulang-ulang kata-kata, ?Besok kita akan bertemu dengan para kekasih (Muhammad dan para sahabatnya)?. Semoga Allah meridai dan memberinya pahala yang baik atas sumbangan yang dia persembahkan kepada Islam.

Selasa, 10 Agustus 2010

Biografi Syekh Abdul Qadir Jaelani

Nama beliau adalah Ja’far bin Tsa’lab bin Ja’far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal Al adfawi. Seoarang ‘ulama bermadzhab Syafi’I yang tinggal di Baghdad.

Kelahiran dan wafatnya beliau :
Dilahirkan pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 685 H. Wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi beliau dimuat oleh Al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452. Imam Ibnu Rajab menyatakan bahwa Syeikh Abdul Qadir Al Jailani lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan atau disebut juga dengan Kailan. Sehingga diakhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al Kailani atau juga Al Jiliy. (Biaografi beliau dimuat dalam Kitab Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali. Buku ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia).
Beliau wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj.

Masa Muda Beliau:
Beliau meninggalkan tanah kelahiran, dan merantau ke Baghdad pada saat beliau masih muda. Di Baghdad belajar kepada beberapa orang ulama’ seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Muharrimi. Beliau belajar sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama’. Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil-kecilan di daerah yang bernama Babul Azaj. Pengelolaan sekolah ini diserahkan sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani. Beliau mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim disana sambil memberikan nasehat kepada orang-orang yang ada tersebut. Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasehat beliau. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah itu tidak kuat menampungnya. Maka, diadakan perluasan

Murid-murid beliau :
Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama’ terkenal. Seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Juga Syeikh Qudamah penyusun kitab figh terkenal Al Mughni.

Perkataan ulama tentang beliau :
Syeikh Ibnu Qudamah rahimahullah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir, beliau menjawab, ” kami sempat berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau sangat perhatian terhadap kami. Kadang beliau mengutus putra beliau yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat fardhu.” Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama beliau selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan untuk belajar kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani sampai beliau meninggal dunia. (Siyar A’lamin Nubala XX/442). Beliau adalah seorang ‘alim. Beraqidah Ahlu Sunnah, mengikuti jalan Salafush Shalih. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah.

Tetapi banyak (pula) orang yang membuat-buat kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran, “thariqah” yang berbeda dengan jalan Rasulullah, para sahabatnya, dan lainnya. Diantaranya dapat diketahui dari perkataan Imam Ibnu Rajab, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syeikh, baik ‘ulama dan para ahli zuhud. Beliau banyak memiliki keutamaan dan karamah. Tetapi ada seorang yang bernama Al Muqri’ Abul Hasan Asy Syathnufi Al Mishri (Nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Yusuf bin Jarir Al Lakh-mi Asy Syath-Nufi. Lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia dituduh berdusta dan tidak bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar (kebohongannya ).

Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah mansyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh ( dari agama dan akal ), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas. (Seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya.) semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah. Kemudian aku dapatkan bahwa Al Kamal Ja’far Al Adfwi (Nama lengkapnya ialah Ja’far bin Tsa’lab bin Ja’far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal Al Adfawi. Seoarang ‘ulama bermadzhab Syafi’i. Dilahirkan pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 685 H. Wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi beliau dimuat oleh Al Hafidz di dalam kitan Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452.) telah menyebutkan, bahwa Asy Syath-nufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.”(Dinukil dari kitab At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.). Imam Ibnu Rajab juga berkata, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahullah memiliki yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib.

Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang dengan sunnah. Beliau membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, ” Dia (Allah ) di arah atas, berada diatas ‘arsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu.” Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadist-hadist, lalu berkata ” Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’ ( Allah berada diatas ‘arsyNya ) tanpa takwil ( menyimpangkan kepada makna lain ).

Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Allah diatas arsys.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 515). Ali bin Idris pernah bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, ” Wahai tuanku, apakah Allah memiliki wali ( kekasih ) yang tidak berada di atas aqidah ( Imam ) Ahmad bin Hambal?” Maka beliau menjawab, ” Tidak pernah ada dan tidak akan ada.”( At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 516). Perkataan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani tersebut juga dinukilkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Istiqamah I/86. Semua itu menunjukkan kelurusan aqidahnya dan penghormatan beliau terhadap manhaj Salaf. Sam’ani berkata, ” Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau.” Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut,”Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.” Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan beliau mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, “Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman ). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.”( Siyar XX/451 ). Imam Adz Dzahabi juga berkata, ” Tidak ada seorangpun para kibar masyasyeikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak diantara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi “. Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil, hal.136, ” Aku telah mendapatkan aqidah beliau ( Syeikh Abdul Qadir Al Jailani ) didalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. (Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94) Maka aku mengetahui bahwa dia sebagai seorang Salafi.

Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf.” (At Tashawwuf Fii Mizanil Bahtsi Wat Tahqiq, hal. 509, karya Syeikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Penerbit Darul Manar, Cet. II, 8 Dzulqa’dah 1415 H / 8 April 1995 M.). Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang ‘alim Salafi, Sunni, tetapi banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau.

Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu. Wallahu a’lam
bishshawwab. Kesimpulannya beliau adalah seorang ‘ulama besar. Apabila sekarang ini banyak kaum muslimin menyanjung-nyanjungnya dan mencintainya, maka suatu kewajaran. Bahkan suatu keharusan. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau di atas Rasulullah shollallahu’alaihi wasalam, maka hal ini merupakan kekeliruan. Karena Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasalam adalah rasul yang paling mulia diantara para nabi dan rasul. Derajatnya tidak akan terkalahkan disisi Allah oleh manusia manapun.

Adapun sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah ( perantara ) dalam do’a mereka. Berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah, kecuali dengan perantaranya. Ini juga merupakan kesesatan. Menjadikan orang yang meningal sebagai perantara, maka tidak ada syari’atnya dan ini diharamkan. Apalagi kalau ada orang yang berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab do’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak diberikan kepada selain Allah. Allah melarang mahluknya berdo’a kepada selain Allah,

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah.
Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya
Disamping ( menyembah ) Allah.
( QS. Al-Jin : 18 )
Sumber: zainurie.wordpress.com

Kamis, 05 Agustus 2010

Nama & Biografi Singkah Tokoh Islam

Biografi Singkat Para Tokoh-Tokoh Islam

Abu al-Aswad ad-Du’ali (605-688 Masehi) : Salah seorang Tabi’in. Beliau pernah dilantik menjadi gabenur Basrah pada zaman pemerintahan Saidina Ali bin Abi Talib. Beliau adalah seorang penyair terkenal dan pakar bahasa Arab, dianggap salah seorang pengasas ilmu nahu dan qawaid (kaedah) bahasa Arab. Beliau juga merupakan ahli fiqh, khatib serta alim.

Abu al-Hasan al-Asy’ariy (Meninggal dunia pada tahun 963 Masehi) : Di antara imam dalam ilmu usuluddin, beliau telah membuat perbandingan di antara dalil-dalil (pendapat) ahli fiqh dan mu’tazilah. Pengasas mazhab al-Asyaa’irah, beliau telah mengarang 9 buah kitab dan di antara karangan beliau ialah: “Al-Ibanah An Usul Ad-Diyaanah” (Penjelasan terhadap dasar2 agama)

Abu al-Hasan al-Mas’udi (meninggal dunia tahun 957 Masehi) : Pengkaji sejarah, geografi dan penjelajah dari Baghdad. Beliau telah menjelajah ke beberapa buah negeri sebelum menetap di Mesir sehingga meninggal dunia di sana. Beliau juga telah mengarang lebih dari 10 buah buku mengenai sejarah berbagai bangsa. Buku-buku beliau banyak memberikan banyak manfaat.

Abu ar-Raihan al-Bairuni (973-1048 Masehi) : Seorang pakar sejarah, matematik, astronomi, geografi, kedoktoran dan farmasi bangsa Arab. Salah seorang alim ulama Islam yang terkenal. Mengikut sejarah, beliau merupakan seorang ahli sains terkenal dan orang pertama yang menyatakan bahawa bumi beredar mengelilingi poros. Beliau telah mengarang lebih dari 120 buah buku.

Abu at-Tayyib al-Mutanabbi (915-965 Masehi) : Beliau di antara penyair Arab yang terkenal, seorang pakar terhadap kaedah mencipta syair Arab. Beliau sangat terkenal dengan qasidah, kata-kata hikmat dan kecintaan terhadap pengembaraan. Orang-orang Arab menganggap beliau sebagai “Penyair Islam yang terkenal”.

Abu al-Atahiah (748-825 Masehi) : Seorang penyair Islam, Syair berbentuk asmara dan puji-pujian ditinggalkan dan menitikberatkan kepada kezuhudan. Belaiu mendapat sanjungan yang tinggi di sisi Khalifah Harun ar-Rasyid.

Abu al-Ala’ Al-Ma’arri (973-1057 Masehi) : Seorang penyair dan ahli falsafah Islam. Alim dalam bidang agama, mazhab-mazhab dan pegangan setiap kumpulan agama. Seorang yang sangat mahir dalam bidang sejarah. Hidup di dalam kezuhudan dan menggelarkan dirinya sebagai “Tawanan di dalam dua penjara”. Beliau telah mengarang lebih dari 70 buah buku dan beberapa buah antologi (diwan) syair. Buku-buku beliau telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Abu al-Faraj al-Asbahani (897-967 Masehi) : Di antara pakar-pakar terkemuka di dalam bidang sastra, sejarah dan bahasa. Beliau telah mengarang beberapa buah kitab dan yang paling terkenal di antaranya ialah “Al-Aghani” [Lagu-lagu] yang mana beliau mencatatkan tentang sejarah secara saintifik dan terperinci.

Abu al-Qasim az-Zahrawi (1030-1106 Masehi) : Di antara pakar-pakar bedah yang paling mahir di negeri-negeri Arab pada zaman beliau. Orang pertama yang mengarang berkenaan dengan pembedahan di kalangan bangsa Arab seperti, “At-Tasrif Liman Ajaz An At-Ta’lif. Beliau telah mencipta banyak alat-alat pembedahan yang baru. Kelebihan az-Zahrawi merangkumi setiap bentuk ilmu perobatan serta peralatan-peralatannya. Buku-buku beliau telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Ibrani, Perancis dan Itali.

Abu al-Wafa’ al-Buzjani (940-998 Masehi) : Seorang ahli astronomi dan ahli matematik Arab paling terkemuka yang pernah ada. Beliau merupakan salah seorang penterjemah yang mahir dari Yunani (Greece). Beliau telah mengarang kira-kira 5 buah buku dan yang terkenal di antaranya ialah, “Al-Handasah” [geometri].

Abu Bakar al-Baitar (meninggal dunia pada tahun 1340 Masehi) : Seorang doktor veterinar (haiwan) dan penjaga kuda milik an-Nasir bin Qalawun, mahir mengenai penyakit-penyakit pada kuda. Beliau telah mencurahkan hasil penyelidikannya di dalam buku, “Kasyifu Al-Waili fi Ma’rifati Amradhi Al-Khaili” (Kajian menyeluruh untuk mengetahui tentang penyakit-penyakit kuda).

Abu Bakar al-Baihaqi (meninggal dunia pada tahun 1066 Masehi) : Seorang yang faqih dalam mazhab Syafie. Beliau mempunyai kelebihan dalam mazhab Syafie kerana buku-buku karangannya banyak membincangkan kaedah mazhab tersebut. Beliau juga dianggap sebagai ulama besar hadis dan telah mengarang lebih dari 10 buah buku. Di antara yang paling terkenal ialah, “As-Sunan al-Kubra”.

Abu Bakar Ar-Razi (864-923 Masehi) : Tergolong di antara doktor-doktor dan ahli-ahli falsafah Islam yang terkemuka. Beliau sangat mahir di dalam bidang ilmu kimia, musik, mengarang syair dan astronomi. Beliau juga telah mengarang lebih dari 200 buah buku dan sebahagian darinya berkenaan dengan kedoktoran. Di antara buku-buku yang termasyhur ialah, “Al-Hawi” dan risalah “Al-Judari wa Al-Hasbah” (penyakit cacar dan campak).

Abu Bakar al-Karkhi (meninggal dunia pada tahun 1020 Masehi) : Ahli matematik Islam, tinggal di Baghdad. Kebanyakan karangan-karangan beliau adalah dalam bidang aljabar dan aritmetik. Di antara yang terkenal ialah, “Al-Kafi” [memadai] dalam bidang aritmetik.

Abu Tammam (788 – 845 Masehi) : Penyair Arab di zaman Abbasiah. Syair beliau mencapai tahap kecemerlangan paling tinggi dan tidak dapat ditandingi, mempunyai kelebihan melalui khayalan beliau yang meluas. Syair-syair beliau banyak mengandungi kata-kata hikmat dan perumpamaan. Beliau mempunyai beberapa buah dewan (antologi) syair dan di antara yang termasyhurnya ialah yang dialunkan setelah kemenangan Khalifah al-Muktasim di dalam peperangan Amuriah.

Abu Jaafar al-Khazin (meninggal dunia pada tahun 1010 Masehi) : Salah seorang ahli astronomi Islam yang terkemuka. Beliau sangat alim di dalam matematik dan geometri (kajiukur). Beliau juga telah mengarang lebih dari empat buah buku dan di antara yang terpenting ialah “Al-Masa’il Al-Adadiah”.

Abu Jaafar at-Tusi (995-1067 M) : Pentafsir dan ahli fiqh golongan Syiah, pengasas universiti An-Najaf. Buku-buku beliau hampir musnah beberapa kali dan di antara karangan beliau yang termasyhur ialah, “Al-Bayan Al-Jami’ Li Ulum Al-Quran” [uraian menyeluruh terhadap ulum al-Quran] dan “Al-Hadis Inda Asy-Syiah” [hadis di sisi Syiah].

Abu Hamid Al-Ghazali (meninggal dunia pada tahun 1111 Masehi) : Ahli falsafah dan ulama Islam, digelarkan dengan “Hujjatul Islam” [Pakar dalam Islam]. Beliau mempunyai lebih dari empat belas buah karangan dan di antara buku-buku beliau ialah “Ihya’ Ulum Ad-Din”.

Abu Hanifah ad-Dainawari (meninggal dunia pada tahun 895 Masehi) : Jurutera, ahli sejarah, ahli falsafah dan saintis dalam bidang tumbuhan, berbangsa Arab. Abu Hayyan at-Tauhidi berkata: Beliau telah mengumpulkan di antara kata-kata hikmat ahli falsafah dan kefasihan bahasa Arab. Beliau memiliki kemahiran dalam segala bidang ilmu. Beliau juga telah mengarang lebih dari sepuluh buah buku.

Abu Hayyan at-Tauhidi (meninggal dunia pada tahun 1010 Masehi) : Penulis dan ahli falsafah bangsa Arab yang berpegang dengan pegangan Muktazilah, sangat terkenal dengan keadilan dan berpegang teguh dengan ketauhidan Allah. Beliau mempunyai gaya tersendiri yang tidak dapat ditandingi di dalam bidang penulisan.

Abu Daud as-Sijastani (meninggal dunia pada tahun 817-889 M) : Salah seorang imam dalam bidang hadis. Beliau mempunyai kitab “As-Sunan” yang tergolong di antara enam buah kitab hadis sahih.

Abu Zuaib al-Huzali (meninggal dunia pada tahun 648 M) : Penyair Islam yang hebat dan hidup di dalam dua generasi. Beliau telah mengambil bahagian di dalam pembukaan Afrika “Tunisia sekarang”.

Abu Zaid al-Balkhi (850-934 M): Ahli dalam filsafat dan geografi, telah mengarang lebih dari empat belas buah buku, dan bukunya yang terkenal adalah “Shuwar al-Aqaliim”.

Abu Sulaiman al-Mantiqi (meninggal dunia pada tahun 990 Masehi) : Ahli falsafah berbangsa Arab dan mahir di dalam ilmu mantiq. Beliau telah mengarang beberapa buah buku dan yang terkenalnya ialah, “Siwan Al-Hikmah” [pemelihara hikmat], di dalamnya mencatatkan sejarah falsafah Yunani dan falsafah Islam.

Abu Abdullah al-Idrisi (1100-1165 Masehi) : Seorang pengembara dari Morocco yang pakar dalam bidang geografi dan kedoktoran. Beliau telah mengarang beberapa buah dan di antara buku-buku yang termasyhurnya ialah buku geografi lama dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa.

Abu Othman al-Mazini (meninggal dunia pada tahun 863 Masehi) : Seorang pakar bahasa dari Basrah, tergolong di antara ulama bahasa Arab yang terkemuka. Seorang yang wara’ dan penuh ketakwaan. Beliau mempunyai lebih dari enam buah karang dan di antara yang terpentingnya ialah “At-Tasrif”.

Abu Ali al-Khayyat (meninggal dunia pada tahun 835 Masehi) : Ahli astronomi berbangsa Arab dan di antara ahli falak (astronomi) yang termasyhur di dalam sejarah Islam. Ahli-ahli astronomi Eropa mengenali beliau dengan nama al-Bohali. Setengah dari buku-buku karangan beliau telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Abu Firas al-Hamdani (932-968 Masehi) : Seorang Amir, penyair dan pahlawan berkuda. Beliau pernah terlibat di dalam beberapa peperangan. Menjadi gubenur di Minbaja dan Harran. Beliau pernah ditawan oleh tentera Roma di mana dari itulah beliau telah menghasilkan qasidah yang paling masyhur “Ar-Romiyyat” (Wanita-wanita Rom).

Abu Kamil (meninggal dunia pada tahun 951 Masehi) : (Syuja’ bin Aslam), seorang pakar matematik dari Mesir. Karangan-karangan beliau sangat terkenal di Eropa.

Abu Mihjan Ath-Thaqafi (meninggal dunia pada tahun 650 Masehi) : Seorang penyair Islam dan pahlawan berkuda yang berani, pernah mengambil bahagian di dalam peperangan al-Qadisiah. Syair beliau yang termasyhur adalah syair kemegahan.

Abu Ma’syar al-Balakhi (788-886 Masehi) : Seorang pakar astronomi. Beliau pernah mempelajari bahawa bintang-bintang memberi kesan dalam kehidupan manusia dan menemui fakta berhubung dengan pasang dan surut air. Beliau membincangkan pelbagai permasalahan di dalam karangan-karangannya.

Abu Mansur ath-Tha’alibi (961-1038 Masehi) : Sasterawan, pakar bahasa dan ahli sejarah pada masa pemerintahan kerajaan Abbasiah. Beliau banyak menulis buku-buku berkenaan dengan sastera, sejarah dan bahasa. Karangan-karangan beliau lebih dari sembilan puluh buah buku dan di antara yang terpenting ialah “Yatimatu Ad-Dahri Fi Syu’ara’ Ahli Al-Asri”.

Abu Nasru al-Farabi (878-950 Masehi) : Salah seorang ahli falsafah Islam yang terkenal dan pakar dalam ilmu mantiq, matematik dan musik. Beliau telah mencoba membuat penyesuaian di antara syariat Islam dan falsafah Yunani, beliau juga telah mengarang lebih dari seratus buah buku.

Abu Nuwas (757-814 Masehi) : Salah seorang penyair terkenal di dalam sejarah kesusasteraan Arab dan merupakan penyair Iraq pada zamannya. Beliau adalah orang pertama yang mencipta syair mengikut cara modern serta menjauhi dari menggunakan dialek badawi.

Abu Hilal al-Askari (meninggal dunia pada tahun 1005 Masehi) : Sastrawan dan penyair berbangsa Arab serta salah seorang di antara pakar ilmu balaghah. Beliau mempunyai lebih dari sepuluh buah karangan dan beliau juga adalah pengarang buku “Kitab As-Sina’atain: An-Nazmu Wa An-Nathru”.

Ahmad al-Yaakubi (meninggal dunia pada tahun 905 Masehi) : Pakar geografi dan sejarah dari Baghdad dan banyak mengembara. Beliau telah mengarang tiga buah buku tetapi terkenal melalui bukunya, “Al-Buldan”, di mana beliau mencatatkan tentang sejarah, kemasyarakatan dan kebudayaan negeri-negeri yang telah dilawatinya.

Ahmad bin Arabsyah (1388-1450 Masehi) : Pakar sejarah dan pengembara dari Damaskus. Beliau telah mengarang beberapa buah buku di dalam bahasa Arab, Fersi dan Turki.

Ahmad Taimur (1871-1931 Masehi) : Sasterawan, penyelidik dan ahli sejarah dari Mesir. Tergolong di antara pakar bahasa Arab. Beliau telah mengarang hampir empat puluh buah buku.

Ahmad Syauqi (1868-1932 Masehi) : Seorang penyair dari Mesir, tergolong di antara para penyair zaman moden yang termasyhur dan diberi gelaran, amir (ketua) para penyair. Syair beliau mengatasi kebanyakan seni-seni syair.

Ahmad Faris asy-Syidyaq (1804-1888 Masehi) : Sasterawan dan pakar bahasa dari Libanon. Tergolong di antara pelopor kewartawanan dalam bahasa Arab. Pengasas akhbar “Al-Jawa’ib”. Beliau telah mengarang lebih dari sepuluh buah buku.

Ismail Abu al-Fida’ (1273-1331 Masehi) : Raja, ahli sejarah dan ahli geografi yang terkemuka.

Ibnu Ajurrum (723 Hijrah, 1323 Masehi) : Abu Abdullah as-Sanhaji, pakar nahu bahasa Arab dari Morocco. Beliau terkenal dengan bukunya, “Al-Muqaddimah Al-Ajurrumiah Fi Ilmi Al-Arabiah”.

Ibnu Abi ar-Rijal (meninggal dunia pada tahun 1040 Masehi) : Seorang ahli astronomi dan matematik dari Andalusia. Beliau terkenal di kalangan ulama Arab dengan buku, “Al-Bari’ Fi Ahkam An-Nujum”. Hasil-hasil karangan beliau telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Ibnu Abi asy-Syukri (meninggal dunia pada tahun 1281 Masehi) : Seorang ahli astronomi dari Andalusia yang tinggal di Cordova (Qurtubah). Beliau berkerja bersama Nusair ad-Din at-Tausi di balai meneropong Maraghah. Beliau juga telah mengarang lebih dari sepuluh buah buku dan di antara yang termasyhur ialah, “Al-Arba’ Maqalat Fi An-Nujum”, (Empat makalah tentang bintang).

Ibnu Abi Sadiq (meninggal dunia pada tahun 1077 Masehi) : Seorang doktor dan ahli falsafah dari Naisabur, murid Ibnu Sina. Beliau telah menjelaskan hasil karangan Abuqrat dan Galinis, beliau juga digelar dengan Sokrates Kedua.

Ibnu al-Baitar (meninggal dunia pada tahun 1248 Masehi) : Pakar terkemuka di dalam sejarah biologi pada kurun pertengahan dan pakar di dalam bahagian botani (kaji tumbuhan) di Andalusia. Beliau telah mengarang lebih dari enam buah buku manakala yang termasyhurnya ialah “Al-Jami’ Limusannafaat Al-Adwiah Wa Al-Aghziah”. [Himpunan Buku-buku Mengenai Ilmu obat-obatan dan Makanan].

Ibnu al-Jauzi (1120-1200 Masehi) : Ulama fiqhh dan ahli sejarah berbangsa Arab. Beliau telah mengarang hampir dua puluh buah buku dalam pelbagai bidang ilmu pengetahuan, di antaranya ialah, “Al-Muntazim Fi Tarikh Al-Umam”.

Ibnu al-Hajib (meninggal dunia pada tahun 1249 Masehi) : Ulama fiqh dan pakar nahu bahasa Arab dari Mesir dan tergolong di antara pakar-pakar bahasa. Beliau mempunyai karangan di dalam bidang nahwu, saraf, arudh (mengkaji bentuk-bentuk sajak dan puisi) dan usul fiqh.

Ibnu ar-Rumi (836-896 Masehi) : Seorang penyair dan tergolong di antara penyair kerajaan Abbasiah Uthmaniah yang terkenal. Sangat terkenal dengan sifat kemahiran dan sindirannya yang pedas.

Ibnu asy-Syatir (meninggal dunia pada tahun 1375 Masehi) : Abu al-Hasan Ali, seorang pakar astronomi dan matematik dari Damaskus. Di antara karangan-karangan beliau yang termasyhur ialah “Al-Istirlab”.

Ibnu at-Taib as-Sarkhasi (meninggal dunia pada tahun 899 Masehi) : Seorang ahli falsafah Arab yang sangat alim dalam bidang sejarah, falsafah, politik, kebudayaan dan kesenian. Beliau telah mengarang lebih dari empat puluh buah buku. Beliau juga merupakan guru, sahabat dan penasihat kepada al-Muktadhad.

Ibnu al-Arabi (meninggal dunia pada tahun 1148 Masehi) : Merupakan ulama, imam dan hafiz Andalusia yang terakhir. Beliau mempunyai banyak karangan yang berkenaan dengan al-Quran dan sunah, di antaranya, “Ahkam Al-Quran”.

Ibnu al-Amid (meninggal dunia pada tahun 970 Masehi) : Seorang penyair dan sasterawan dari Buwaihi. Beliau merupakan menteri kepada Ruknu ad-Daulah. Beliau juga dianggap sebagai salah seorang daripada pakar kesenian bahasa Arab.

Ibnu al-Awwam (meninggal dunia pada tahun 1158 Masehi) : Seorang pakar ilmu tumbuhan dari Andalusia. Beliau telah mengarang buku berjudul, “Al-Filahah Al-Andalusiah”, yang menjadi salah satu rujukan di dalam sejarah ilmu tumbuhan.

Ibnu al-Faridh (1181-1235 Masehi) : Umar bin Ali bin Mursyid bin Ali, seorang penyair Arab serta ahli sufi. Beliau sangat terkenal dengan syair-syair yang memuji zat Allah.

Ibnu al-Naqib (1494-1563 Masehi) : Seorang dokter, pakar dalam bidang astronomi, matematik, syair dan musik. Beliau mempunyai kepandaian mencipta peralatan astronomi untuk meneropong bintang-bintang.

Ibnu al-Yasmin (meninggal dunia pada tahun 1204 Masehi) : Seorang penulis dalam bidang matematik. Beliau merupakan pakar dalam matematik, pengiraan, geometri, ilmu mantiq dan kaji bintang. Beliau juga mempunyai karangan-karangan yang berkaitan dengan aljabar dan logaritma.

Ibnu Bajah (meninggal dunia pada tahun 1138 Masehi) : Orang barat mengenali beliau dengan nama Ibnu Bajja, seorang ahli falsafah Arab yang termasyhur. Beliau telah menguraikan karangan Aristotles. Beliau juga terkenal dengan pengetahuannya dalam bidang kedoktoran, astronomi dan musik.

Ibnu Batutah (1304 – 1377 Masehi) : Seorang pengembara yang beragama Islam. Beliau telah menjelajah segenap pelosok dunia yang telah dikenali. Ketiga-tiga pengembaraan beliau memakan masa dua puluh sembilan tahun. Beliau juga terkenal dengan pemerhatia yang teliti dan perawi yang amanah.

Ibnu Taimiah (1263 – 1328 Masehi) : Seorang pakar dalam hukum (faqih) yang berbangsa Arab, di antara imam kapada mazhab Hambali. Beliau telah digelar dengan, “Penghidup sunah dan imam para mujtahid”. Beliau juga mempunyai lebih dari lima buah karangan, yang terkenalnya ialah, “Al-Fatawa”.

Ibnu Jubair (1145 – 1217 Masehi) : Seorang pengembara dari Andalusia. Beliau telah melakukan tiga kali pengembaraan menjelajah dunia Arab dan telah membukukan apa yang disaksikan di dalam tiga buah buku, tetapi hanya sebuah buku yaitu dari pengembaraan pertama beliau saja yang telah sampai kepada kita, iaitu “Rehlah Ibnu Jubair”. Beliau juga mempunyai beberapa buah karangan dan sebuah himpunan (dewan) syair.

Ibnu Jarir at-Tobari (meninggal dunia pada tahun 923 Masehi) : Seorang ahli sejarah, pentafsir dan faqih mazhab Syafie. Di antara kitab-kitab beliau ialah, “Jami’ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Quran” yang dikenali dengan “Tafsir At-Tobari”.

Ibnu Jazlah (meninggal dunia pada tahun 1100 Masehi) : Seorang dokter bangsa Arab beragama Kristen yang memeluk Islam melalui Abi Ali bin al-Walid al-Maghribi. Di antara karangan-karangan beliau yang termasyhur ialah “Kitab Al-Minhaj Fi Al-Adwiah Al-Murakabah” dan “Taqwim Al-Abdan”. Karangan-karangan beliau telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Ibnu Jinni (942-1002 Masehi) : Salah seorang di antara pakar bahasa dan pakar nahwu bahasa Arab. Beliau merupakan seorang penyair dan telah mengarang lebih dari lima buah buku, di antara yang terkenal ialah, “Al-Khasais”.

Ibnu Hajar al-Asqalani (meninggal dunia pada tahun 1449 Masehi) : Ahli hadis dan ahli sejarah dari Mesir. Beliau adalah di antara imam ulama hadis dan di antara kitab hasil karangan beliau ialah, “Fathu Al-Bari Bi Syarhi Sahih Al-Bukhari”.

Ibnu Hazmi (994-1064 Masehi) : Seorang penyair, ahli falsafah, ahli sejarah dan seorang faqih yang beragama Islam, berasal dari Andalusia. Dikatakan bahawa buku-buku karangan beliau mencapai empat puluh buah. Buku “Al-Faslu Fi Al-Milal Wa Al-Ahwa’ Wa An-Nihal” dianggap karangan pertama yang membincangkan tentang perbandingan agama.

Ibnu Hauqal (meninggal dunia pada tahun 978 Masehi) : Seorang pengembara dan ahli geografi berbangsa Arab. Beliau telah menjelajahi segenap dunia Islam dan di antara kitab beliau yang terkenal ialah “Suratu Al-Ardh”.

Ibnu Khaldun (1332-1406 Masehi) : Ahli sejarah dan ahli falsafah berbangsa Arab. Beliau dianggap pengasas ilmu falsafah sejarah dan ilmu Sosiologi. Beliau banyak mengarang buku dan yang termasyhur di antaranya ialah, kitab “Al-Muqadimah” yang mengandungi teori-teori yang tidak disebut di dalam kitab-kitab sejarah dan di dalam kitab-kitab ilmu kemasyarakatan.

Ibnu Khalkan (1211 – 1282 Masehi) : Ahli sejarah dan penulis autobiografi berbangsa Arab. Pengarang mu’jam sejarah yang terkenal iaitu, “Wafiyat Al-A’yan Wa Amba’ Abna’ Az-Zaman”.

Ibnu Rusydi (1126-1198 Masehi) : Ahli filsafah berbangsa Arab dari Andalusia. Beliau merupakan pakar dalam bidang ilmu fiqh, syair, kedoktoran, matematik dan astronomi. Beliau juga telah cuba membuat penyesuaian di antara Syariah Islam dan falsafah Yunani.

Ibnu Zahru (meninggal dunia pada tahun 1162 Masehi) : Seorang dokter berbangsa Arab dari Andalusia. Beliau mencoba mengelakkan perobatan secara sihir dan perkara-perkara karut. Beliau juga banyak mengarang buku-buku perobatan yang banyak memainkan peranan penting hingga akhir kurun ketujuh belas.

Ibnu Zaidun (1004 – 1071 Masehi) : Menteri Andalusia, penulis dan penyair yang dinamakan dengan, “Buhturi di Barat”, di mana gaya bahasa beliau termasyhur dengan kelembutan, indah didengar dan perumpamaan yang indah.

Ibnu Sa’du az-Zahri (784 – 845 Masehi) : Ahli hadis dan ahli sejarah beragama Islam, pengarang kitab “Al-Tabaqat Al-Kubra” yang membincangkan tentang peringkat-peringkat sahabat dan tabiin.

Ibnu Sirin (meninggal dunia pada tahun 729 Masehi) : Seorang imam di dalam ilmu-ilmu agama pada zaman beliau yang terkenal dengan kewarakan dan tafsir mimpi. Di antara karangan-karangan beliau ialah “Ta’bir Ar-Rukya” yang membicarakan tentang tafsir mimpi.

Ibnu Sina (980-1037 Masehi) : Salah seorang di antara dokter-dokter dan ahli-ahli filsafat yang terkemuka di dalam sejarah Islam. Karangan-karangan beliau melebihi seratus buah buku, di antara karangannya yang termasyhur ialah buku “Al-Qanun” dalam bidang kedoktoran dan “Al-Shifa’” dalam bidang falsafah.

Ibnu Tufail (1100-1185 Masehi) : Seorang pakar ensiklopedia dari Andalusia, dokter, ahli filsafat, ahli astronomi dan penyair. Beliau telah menulis kisah “Hayyu bin Yaqzan” di mana melaluinya beliau coba membuat penyesuaian di antara falsafah dan agama.

Ibnu Izari (meninggal dunia pada tahun 1320 Masehi) : Ahli sejarah berbangsa Arab yang tinggal di Morocco (Maghribi). Beliau telah banyak mengarang buku tetapi lebih terkenal melalui bukunya “Al-Bayan Al-Mugharrab Fi Akhbar Muluk Al-Andalus Wa Al-Maghrib”.

Ibnu Asakir (1105-1175 Masehi) : Salah seorang pakar hadis pada zaman beliau dan juga ahli sejarah berbangsa Arab yang terkenal dengan panggilan “Al-Hafiz bin Asakir”. Beliau banyak mengarang buku dan di antara yang terkenalnya ialah “Tarikh Dimasyq Al-Kabir”.

Ibnu Aqil (1298-1367 Masehi) : Ahli nahwu dari Mesir dan salah seorang di antara pakar-pakar nahwu bahasa Arab. Karangan beliau yang paling termasyhur ialah, “Syarhu Alfiah Ibnu Malik”.

Ibnu Qayyim al-Jauziah (meninggal dunia pada tahun 1350 Masehi) : Seorang yang faqih dalam mazhab Hambali dari Damsyik, yang menentang dan mengkritik metodologi ahli falsafah. Karangan-karangan beliau adalah banyak, di antaranya “Madarij As-Salikin”.

Ibnu Katsir (1300- 1327 Masehi) : Seorang hafiz (penghafaz hadis), ahli sejarah dan seorang yang fakih dari Damaskus. Beliau telah mengarang lebih dari sebelas buah buku dan kebanyakannya terdiri dari beberapa juz. Di antara buku-buku beliau yang termasyhur ialah, “Al-Bidayah Wa An-Nihayah” dan “Tafsir Al-Quran Al-Azim” dalam empat jilid.

Ibnu Majid (meninggal dunia pada tahun 1498 Masehi) : Nakoda kapal serta jurumudi berbangsa Arab, yang mengemudikan kapal Vasco da Gama ketika belayar dari persisiran pantai Afrika Timur hingga ke persisiran pantai India. Beliau menghasilkan lebih kurang 20 karangan tentang ilmu yang berkaitan dengan perkapalan (mengembara melalui lautan).

Ibnu Malik (1204 – 1274 Masehi) : Pakar bahasa yang termasyhur berasal dari Andalusia. Beliau pernah menjadi pakar rujukan di dalam ilmu qiraat dan nahwu. Beliau telah menyusun beberapa antologi syair di mana yang termasyhurnya ialah antologi yang terkenal dengan nama “Alfiah bin Malik”. Antologi tersebut memuatkan sebanyak seribu bait ringkasan kaedah bahasa Arab.

Ibnu Manzur (1232 – 1311 Masehi) : Pakar bahasa yang berasal dari Mesir. Beliau adalah pengarang mu’jam (kamus) yang sangat besar bernama “Lisan Al-Arab” [Dialek Arab] – Kamus Lengkap Bahasa Arab. Beliau sangat suka mengarang kitab-kitab yang besar, jika diperhatikan kepada isi kandungan dan maksud kitab tersebut. Beliau pernah mengarang lebih dari sebelas buah kitab.

Ibnu Yunus (meninggal dunia pada tahun 1009 Masehi) : Seorang ahli astronomi yang berasal dari Mesir, yang juga merupakan di antara pakar-pakar astronomi berbangsa Arab yang terkenal. Beliau telah menciptakan berbagai hukum (kaedah) dan persamaan yang sangat memberi kesan terhadap penemuan logaritma. Beliau juga telah mencipta bandul jam. Sesetengah buku-buku beliau telah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis dan di antara karangan-karangan tersebut juga telah mendapat perhatian para ahli astronomi dari China.

Al-Asma’ie (740-831 Masehi) : Seorang perawi dan di antara salah seorang alim ulama Arab. Pakar bahasa Arab yang termasyhur dan guru kepada Khalifah al-Amin. Beliau telah mengarang lebih dari lima belas buah buku, antara yang terpentingnya ialah, “Al-Asma’iyyat” yang menghimpunkan syair-syair berbahasa Arab.

Imam Abu Hanifah an-Nu’man (699-767 Masehi) : Salah seorang dari ulama fiqh Islam yang terkenal dan merupakan penasehat agama di Iraq. Pengasas mazhab Hanafi, salah satu dari empat mazhab fiqh.

Imam Ahmad bin Hambal (780-855 Masehi) : Salah seorang dari ulama fiqhh Islam yang terkenal dan merupakan ketua ahli hadis pada zaman beliau. Pengasas mazhab Hambali, iaitu salah satu dari empat mazhab fiqh.

Imam Al-Auza’ie (707-774 Masehi) : Salah seorang daripada ulama fiqh Islam. Pengasas mazhab fiqh yang diketahui tersebar di negeri Syam. Orang yang paling alim dalam bidang fiqh di Syam dan terkenal dengan kezuhudan dan beliau juga tergolong dari kalangan ulama muhaddisin yang terkenal.

Imam asy-Syafi’i (767-819 Masehi) : Salah seorang dari empat orang imam Ahli Sunnah yang terkenal. Beliau selalu mengunjungi Imam Malik di Madinah dan belajar daripadanya. Mazhab Syafie dinisbahkan kepada beliau, di mana Mazhab tersebut adalah salah satu dari empat mazhab fiqh. Beliau mempunyai beberapa karangan dan di antara yang paling terkenal ialah, kitabnya “Al-Umm”.

Imam Malik bin Anas (712-795 Masehi) : Pengasas mazhab Maliki, salah satu dari empat mazhab fiqh. Di antara karangan beliau ialah, “Al-Muwattak”, kitab pertama yang dikeluarkan di dalam fiqh Islam.

Al-Istakhri (meninggal dunia pada tahun 957 Masehi) : Seorang pengembara beragama Islam dan salah seorang pakar geografi yang termasyhur. Beliau telah mengembara ke negeri-negeri Arab dan sebagian dari India. Buku-buku geografi karangan Abu Zaid al-Balkhi merupakan rujukan beliau. Hasil-hasil karangan beliau pula telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Al-Battani (858-929 Masehi) : Abu Abdullah Muhammad, seorang pakar astronomi berbangsa Arab. Beliau telah menentukan tempo masa setiap musim dengan terperinci dan terkenal dengan bukunya yang bertajuk “Az-Zij”.

Al-Buhturi (820-897 Masehi) : Seorang penyair berbangsa Arab di zaman pemerintahan Abbasiah. Beliau merupakan penyairnya Al-Mutawakkil dan terkenal dengan kata-kata pengantar yang indah dan mahir menggambarkan alam.

Al-Bukhari (810 – 870 Masehi) : Seorang Ulama Islam. Di antara ahli hadis yang terkenal dan kitab beliau “Sahih Al-Bukhari” dianggap kitab hadis yang paling unggul dan paling sahih.

Al-Busairi (1213 – 1297 Masehi) : Seorang penyair dari Mesir, terkenal dengan qasidah-qasidah memuji Rasulullah s.a.w seperti qasidah “Al-Burdah”. Beliau adalah seorang ahli hadis penulis khat yang mahir.

Al-Baidhawi (meninggal dunia pada tahun 1286 Masehi) : Salah seorang pentafsir al-Quran dan banyak mengarang buku-buku berkenaan ilmu agama. Di antara buku yang terkenal ialah, “Anwar At-Tanzil Wa Asrar At-takwil”. Beliau mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi ahli Sunnah.

At-Tirmizi (meninggal dunia pada tahun 892 Masehi) : Seorang ahli hadis dan ulama hadis yang terkenal. Beliau telah mengarang beberapa buah buku dan kitab beliau “Al-Jami’ As-Sahih” adalah salah satu di antara enam buah kitab hadis yang besar.

Ath-Tha’labi (meninggal dunia pada tahun 1046 Masehi) : Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim An-Naisaburi, di antara ulama pentafsir dan ahli, sejarah yang terkenal. Beliau telah mengarang lebih dari lima buah buku, di antaranya “Al-Arais Fi Qasas Al-Ambia’”.

Al-Jahiz (775-868 Masehi) : Seorang sastrawan berbangsa Arab di zaman pemerintahan Abbasiah. Sangat terkenal dengan kebolehan dan kemahiran beliau dalam bidang jenaka dan sindiran. Beliau telah mengarang lebih dari dua ratus buah buku dan di antara yang termasyhurnya ialah “Al-Bukhala’”.

Al-Hariri (1054-1122 Masehi) : Sasterawan, penulis dan penyair berbangsa Arab. Di antara karangan- karangan beliau yang termasyhur ialah “Al-Maqamat”.

Al-Hasan Al-Basri (642-728 Masehi) : Seorang Islam yang sangat faqih dan pemerintah Basrah. Beliau adalah seorang yang sangat alim pada zamannya malah beliau adalah salah seorang dari ulama-ulama hadis dan teologi (tauhid) yang terkemuka. Mazhabnya banyak menitikberatkan soal-soal tasawuf dan kezuhudan.

Al-Hasan bin Al-Haitham (965-1040 Masehi) : Orang-orang barat mengenali beliau dengan nama al-Hazim, seorang ahli falak, ahli astronomi dan ahli matematik beragama Islam. Beliau adalah ahli fisika berbangsa Arab yang terkemuka di sekitar negara-negara Arab pada abad pertengahan. Beliau juga seorang saintis di bidang optik. Saintis-saintis banyak merujuk kepada buku-buku karangan beliau malah buku-buku karangannya dalam bidang tersebut sangat banyak seperti yang termasyhurnya ialah kitab: “Al-Manazir” di bidang sains optik.

Al-Khazini (meninggal dunia pada tahun 1155 Masehi) : Seorang ahli astronomi dan ahli falak Islam. Beliau telah mengarang beberapa buah buku, terutamanya buku “Mizan Al-Hikmah” [Neraca Hikmat] yang diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

Al-Khatib Al-Baghdadi (1002-1071 Masehi) : Seorang ahli sejarah dan ulama Hadis yang berasal dari Baghdad. beliau telah menulis lebih dari sembilan buah buku, di antara yang termasyhurnya ialah buku “Tarikh Baghdad” [Sejarah Baghdad] dalam empat belas jilid.

Al-Khalil bin Ahmad (meninggal dunia pada tahun 791 Masehi) : Salah seorang pakar bahasa Arab dan pengasas ilmu Arudh. Beliau adalah pengarang mu’jam abjad Arab (AL Ain) yang pertama.

Ad-Daruqutni (meninggal dunia pada tahun 995 Masehi) : Seorang muhaddis yang berasal dari Baghdad. Beliau juga seorang ulama hadis pada zamannya dan seorang yang alim dalam masalah nahwu dan qiraat. Beliau telah mengarang lebih kurang empat buah buku, di antara yang termasyhurnya ialah buku “As-Sunan” salah sebuah bukunya yang besar.

Ad-Darimi (meninggal dunia pada tahun 869 Masehi) : Salah seorang muhaddis yang terkemuka. Di antara murid-muridnya ialah Imam Muslim, Abu Daud, At-Tirmizi dan An-Nasa’ie. Beliau pernah menjadi pemerintah Samarkand. Kitabnya “Sunan Ad-Darimi” adalah termasuk di dalam enam buah kitab hadis yang terkemuka.

Az-Zamakhsyari (1075-1144 Masehi) : Salah seorang dari pakar bahasa, nahwu dan tafsir di dalam sejarah Islam. Beliau telah mengarang lebih dari sepuluh buah kitab, di antara yang termasyhurnya ialah kitab tafsir al-Quran yang bernama “Al-Kasyaf”.

Asy-Syaibani (meninggal dunia pada tahun 821 Masehi) : Seorang pakar bahasa dari pusat pengajian Kufi (Kufah). Beliau telah mengarang beberapa buah kitab yang menjadi panduan ulama-ulama mazhab Hanafi.

Ali Yusuf (1863-1913 Masehi) : Seorang wartawan Mesir. Beliau mengasaskan beberapa buah majalah politik yang mempunyai pengaruh besar sehingga beliau digelar sebagai “Tokoh Wartawan Islam”.

Muhammad Abduh (1849-1905 Masehi) : Seorang ahli politik Mesir. Beliau adalah salah seorang dari ulama-ulama Islam yang menyeru ke arah reformasi dan renovasi. Beliau pernah menjadi mufti Mesir serta senantiasa mengajar dan mengarang.

As-Sahib bin Abbad (938-995 Masehi) : Seorang sastrawan, ahli bahasa dan penyair yang terkemuka. Beliau adalah salah seorang menteri Buwaihi yang memegang jabatan penting. Beliau telah mengarang beberapa buah kitab, di antaranya ialah kamus bahasa yang bernama “Al-Muhit” dalam tujuh jilid.

Al-Farra’ (761-822 Masehi) : Salah seorang pakar nahwu di pusat pengajian Kufi (Kufah) malah beliau adalah orang yang paling mahir di antara mereka tentang bahasa dan kesenian kesusasteraan pada masa tersebut. Beliau telah mengarang beberapa buah buku, di antaranya buku “Ma’ani Al-Quran” [Pengertian al-Quran].

Al-Farazdaq (meninggal dunia pada tahun 729 Masehi) : Penyair Arab dari kerajaan Umaiyyah. Gayanya masyhur dengan sindiran yang pedas. Beliau pernah mengambil bahagian di dalam melawan dua orang penyair terkenal Jarir dan al-Akhtal sehingga mereka terkenal dengan gelaran “Tiga penjuru kerajaan Umaiyyah”.

Al-Fairuzabadi (1329-1415 Masehi) : Salah seorang pakar bahasa dan sastrawan yang terkemuka dan beliau pernah menjadi pemerintah Zabid. Beliau banyak menulis buku-buku, di antara yang termasyhurnya ialah “Al-Qamus Al-Muhit” [Kamus Muhit].

Al-Kisa’ie (meninggal dunia pada tahun 805 Masehi) : Seorang ahli nahwu dari pusat pengajian Kufi (Kufah). Beliau adalah salah seorang dari tujuh orang yang membaca al-Quran dalam bentuk yang berbeda tetapi benar. Beliau adalah gurunya Khalifah Harun ar-Rasyid dan Khalifah al-Ma’mun. Beliau telah mengarang lebih dari dua puluh buah kitab tentang nahu bahasa Arab dan bentuk bacaan al-Quran.

Al-Kindi (796 – 873 Masehi) : Salah seorang dari ahli filsafat Arab yang terkemuka. Beliau dikenali dengan minatnya terhadap ilmu matematik, mantiq, sains fisika, astronomi, musik dan falsafah. Beliau telah mengarang beberapa buah kitab di dalam pelbagai bidang ilmu.

Al-Matiridi (meninggal dunia pada tahun 944 Masehi) : Seorang yang faqih di dalam mazhab Hanafi. Beliau adalah salah seorang dari pakar-pakar ilmu tauhid, tafsir dan usul fiqh. Beliau merupakan pengasas sekolah khusus dalam bidang tauhid “Sekolah Al-Maturidiah” dan beliau telah mengarang lebih dari tujuh buah buku.

Al-Mubarrad (826-898 Masehi) : Salah seorang dari pakar-pakar nahwu dari pusat pengajian Basrah. Beliau adalah salah seorang pakar di dalam sastra Arab. Beliau telah mengarang lebih da

ri tujuh buah buku, di antara yang terpentingnya ialah “Al-Kamil” [Yang Lengkap].

Al-Muqarri (meninggal dunia pada tahun 1631 Masehi) : Seorang ahli sejarah yang berasal dari Tilmisan tetapi meninggal dunia di Mesir. Beliau telah mengarang beberapa buah buku dan yang terpentingnya ialah “Nafhu At-Tayyibi Min Ghusni Al-Andalusi Al-Ratibi.

Al-Maqrizi (1364-1441 Masehi) : Seorang ahli sejarah Mesir yang dilahirkan di Cairo dan menjadi pemerintah di sana. Beliau telah mengarang beberapa buah buku, yang terpentingnya ialah buku “An-Nuqud Al-Islamiah Al-Qadimah” (Mata uang Lama Islam) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Al-Nasa’ie (meninggal dunia pada tahun 915 Masehi) : Salah seorang dari penghafal hadis terkemuka dari mazhab Syafie yang berasal dari Khurasan. Kitabnya “As-Sunan Al-Kubra” [Sunan Yang Besar] adalah terdiri dari enam buah kitab hadis yang menjadi rujukan terpercaya.

Al-Nafri (meninggal dunia pada tahun 965 Masehi) : Seorang penulis Sufi Iraq yang terkenal dengan dua buah kitabnya “Al-Mawaqif” dan “Al-Mukhatabat” tentang tasawuf.

Al-Waqidi (meninggal dunia pada tahun 747-822 Masehi) : Salah seorang dari pakar sejarah yang terkemuka di dalam sejarah Islam. Beliau pernah menjadi pemerintah di Baghdad. Di antara buku yang telah beliau karang ialah “Fathu Afriqiah” [Pembukaan Afrika].

Badi’ az-Zaman al-Hamazani (698-1007 Masehi) : Seorang penulis dan penyair berbangsa Arab. Beliau merupakan pengasas kesenian berkutbah atau pengucapan dalam kebudayaan Arab dan sangat termasyhur dengan pujian terhadap para pemerintah dan menteri.

Jabir bin Hayyan (meninggal dunia pada tahun 815 Masehi) : Seorang ahli filsafat dan ahli kimia yang beragama Islam. Beliau dianggap “Bapak kimia Arab”. Beliau mempunyai beratus-ratus karang dalam bidang kimia, kebanyakannya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin serta diakui oleh para saintis barat.

Jarir (653-733 Masehi) : Seorang penyair berbangsa Arab yang hidup di zaman pemerintahan Umaiyyah. Beliau sangat terkenal dengan syair celaan ketika melawan dua orang penyair terkenal, Al-Akhtal dan Al-Farazdaq, sehingga mereka terkenal dengan gelaran, “Tiga penjuru kerajaan Umaiyyah”.

Jalaluddin as-Sayuti (1445-1505 Masehi) : Seorang pakar ensiklopedia dari Mesir. Beliau mempunyai kira-kira 600 buah buku dalam bidang fiqh, tafsir, hadis, bahasa dan sejarah.

Jamaluddin al-Afghani (1838-1897 Masehi) : Beliau adalah Muhammad bin Safdar al-Husaini. Seorang ahli filsafat beragama Islam. Beliau telah menjelajah ke timur dan barat untuk menyeru ke arah perpaduan Islam. Beliau telah mengasaskan akhbar “Al-Urwah Al-Wuthsqa”. Beliau mahir dalam bahasa Arab, Fersi, Sanskrit, Turki dan pernah belajar bahasa Perancis, Inggeris dan Rusia. Beliau mempunyai buku “Tarikh Al-Afghan” dan “Risalah Fi Ar-Raddi Ala Ad-Dahriyyin”. Kedua-duanya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh murid beliau, Syeikh Muhammad Abduh.

Hafiz Ibrahim (1872-1932 Masehi) : Seorang penyair dari Mesir, salah seorang di antara penyair dalam bahasa Arab yang terkemuka di zaman modern. Terkenal dengan gelaran “Penyair Sungai Nil”.

Hassan bin Thabit (meninggal dunia pada tahun 674 Masehi) : Seorang penyair berbangsa Arab yang hidup dua zaman (Jahiliah dan Islam). Beliau mencela sesiapa yang mencela Rasulullah dan agama Islam, oleh itu beliau dianggap penyair Rasulullah s.a.w.

Rifa’ah At-Tahtawi (1801-1873 Masehi) : Beliau adalah Rifa’ah Rafi’ bin Badawi bin Ali At-Tahtawi, seorang yang alim dan seorang wartawan yang berasal dari Mesir. Beliau dianggap sebagai salah seorang daripada pelopor kebangkitan pemikiran modern di Mesir. Beliau adalah pengasas akhbar “Al-Waqa’ik Al-Misriyah” [Akhbar Mesir]. Beliau banyak mengarang buku serta menterjemah buku dari bahasa Perancis.

Ziryab (meninggal dunia pada tahun 845 Masehi) : Seorang ahli musik dan penyair yang pintar. Beliau sangat peka terhadap hal ihwal Raja-raja, sirah-sirah Khalifah dan ulama-ulama anekdot (ulama yang mempunyai kisah pendek). Beliaulah pencetus ide memasang lima utas tali pada kecapi (gambus) dan beliaulah orang pertama yang menggunakan korus di dalam nyanyian.

Zakaria Al-Qazwini (1208-1283 Masehi) : Ahli sejarah dan geografi Islam. Beliau banyak mengarang buku-buku yang berkaitan dengan ilmu fisika, ilmu kosmologi (ilmu yang berkaitan dengan pembentukan alam), politik dan sejarah.

Sibawaih (meninggal dunia pada tahun 797 Masehi) : Seorang ulama nahwu yang berasal dari Fersi. Beliau adalah salah seorang dari ulama-ulama nahwu Arab yang terkemuka. Beliau telah mengarang kitab nahwu yang dikenali dengan nama “Kitab SiBawaih”.

Syamsuddin Al-Maqdisi (meninggal dunia pada tahun 990 Masehi) : Seorang ahli geografi dan penjelajah Arab. Beliau merupakan orang terakhir dari kalangan ahli-ahli geografi yang terkemuka. Beliau telah mengarang buku “Ahsan At-Taqasim Fi Ma’rifah Al-Aqalim” [Buku Terbaik Untuk Mengetahui Negara].

Shihabuddin Al-Alusi (1802-1854 Masehi) : Seorang sastrawan dan ulama tafsir Arab. Beliau telah mengarang kitab “Ruh Al-Ma’ani” tentang tafsir al-Quran.

Safiuddin Al-Hiliy (1277-1349 Masehi) : Seorang penyair Iraq yang terkemuka. Beliau telah mengarang beberapa buah himpunan (dewan) syair di antaranya ialah Dewan “Durar An-Nuhur” [Kalung Berlian] yang terdiri dari 29 qasidah. Setiap qasidah mengandung 29 bait syair dan bait syair setiap qasidah tersebut bermula dan berakhir mengikut abjad secara tersusun.

Abbas bin Firnas (meninggal dunia pada tahun 887 Masehi) : Seorang pencipta Arab yang berasal dari Andalusia. Beliau telah memperkenalkan musik timur di Andalusia. Beliau menghasilkan kaca dari batu dan mencipta mesin untuk menghitung waktu. Beliau adalah orang pertama yang mencoba terbang memakai bulu burung.

Abbas Mahmud Al-Aqqad (1889-1964 Masehi) : Seorang pengulas, wartawan dan penyair Mesir. Beliau adalah terdiri dari orang-orang yang membuat pembaharuan. Beliau telah mengarang buku “Siar A’lam Al-Islam” [Perangkaan Biografi Umat Islam Yang Terkemuka], “Abqariyyah Muhammad” [Kebijaksanaan Muhammad] dan “Abqariyyah Umar” [Kebijaksanaan Umar].

Abdul Rahman Al-Jabarti (1754-1822 Masehi) : Seorang ahli sejarah Mesir yang sangat dikenali dengan catatannya tentang peristiwa Perancis menyerang Mesir pada (1798). Buku-bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis.

Abdul Rahman Al-Kawakibi (1849-1902 Masehi) : Seorang wartawan dan sastrawan Syria yang sangat dikenali dengan sikap keterbukaan serta seruannya ke arah kesadaran dan perubahan.

Abdul Malik bin Hisyam (meninggal dunia pada tahun 828 Masehi) : Seorang Islam dari bangsa Arab yang merupakan ahli sejarah, sastrawan, pendeklamasi syair serta seorang yang alim tentang nasab, bahasa dan nahwu bahasa Arab. Beliau telah mengarang buku “As-Sirah An-Nabawiyyah” [Sirah Nabi] yang dikenali dengan “Sirah Ibnu Hisyam”.

Izuddin bin Al-Athir (1160-1233 Masehi) : Seorang ulama hadis dan ahli sejarah Arab yang terkemuka. Beliau telah mengarang beberapa buah buku, di antaranya ialah buku sejarah yang bernama:”Al-Kamil” [Yang Lengkap].

Ali Mubarak (1823-1893 Masehi) : Seorang pakar dari Mesir dan salah seorang daripada pakar-pakar terkemuka yang mengasaskan gerakan saintifik di Mesir. Beliau telah berusaha menubumhkan pusat percetakan Arab dan Darul Ulum.

Imaduddin Al-Katib [Al-Imad Al-Asfahani] (1125-1200 Masehi) : Seorang ahli sejarah dan salah seorang dari penulis-penulis terkemuka. Beliau senantiasa mengiringi Salahuddin dan mencatat sejarahnya serta sejarah peperangannya.

Fakhruddin Ar-Razi (1150-1209 Masehi) : Seorang Imam, ahli filsafat dan seorang doktor. Beliau adalah seorang pentafsir al-Quran yang terkemuka. Beliau telah mengarang beberapa buah kitab di dalam bahasa Arab dan Fersi, di antara yang terpentingnya ialah kitab tafsir “Mafatih Al-Ghaib” [Kunci Perkara Yang Ghaib].

Kaab bin Zuhair (meninggal dunia pada tahun 647 Masehi) : Salah seorang dari penyair zaman kebangkitan Islam. Pada zaman tersebut beliau banyak menghina Nabi tetapi setelah beliau memeluk Islam beliau mencipta syairnya “Al-Lamiah” yang banyak memuji Nabi.

Muhammad bin Ahmad Al-Khawarizmi (meninggal dunia pada tahun 997 Masehi) : Seorang saintis Islam dan penyelidik yang berasal dari Khurasan. Beliau adalah orang yang pertama mengarang ensiklopedia di dalam bahasa Arab yang dinamakan dengan “Mafatih Al-UIum” [Kunci Pengetahuan].

Muhammad bin Ishak (meninggal dunia pada tahun 768 Masehi) : Seorang ahli sejarah Arab, salah seorang dari penghafal hadis dan beliau adalah perawi terbaik pada masa tersebut. Beliau telah mengarang kitab “As-Sirah An-Nabawiyyah” [Sirah Nabi] yang dikenali dengan “Sirah Ibnu Ishak”.

Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi (780-850 Masehi) : Beliau digelar sebagai [Profesor]. Beliau adalah ahli matematika, astronomi, geografi dan sejarah Arab. Beliau dianggap sebagai pengasas aljabar. Beliau telah mengarang beberapa buah buku tentang bidang-bidang di atas termasuk sains seterusnya beliau menterjemahkannya pula ke bahasa Latin.

Mahmud Sami Al-Barudi (1840-1904 Masehi) : Seorang penyair terkemuka Mesir. Syairnya berbentuk mudah dan fasih (balaghah). Beliau adalah salah seorang penyumbang syair terkemuka ke dalam gerakan perkembangan syair di negara-negara Arab.

Nasr bin Asim (meninggal dunia pada tahun 807 Masehi) : Seorang yang faqih dan ahli nahwu Arab. Beliau dianggap sebagai salah seorang dari pakar-pakar bahasa yang mula-mula menggariskan nahwu bahasa Arab dan orang pertama yang meletakkan titik pada ayat-ayat al-Quran.

Nusair Ad-Din At-Tausi (1201 – 1274 Masehi) : Seorang ahli astronomi dan ahli matematik Islam. Beliau telah mengarang beberapa buah buku tentang matematik, astronomi dan agama dalam bahasa Arab dan Farsi sehingga beliau dianggap sebagai tokoh untuk kedua kebudayaan Arab dan Fersi.

Wasil bin Atta’ (meninggal dunia pada tahun 748 Masehi) : Mazhab Muktazilah dinisbahkan kepada beliau. Beliau mempunyai kelebihan di dalam menyangkal orang-orang Yahudi, Nasrani (Kristian) dan pandangan-pandangan yang bertentangan dengan Islam. Beliau telah mengarang beberapa buah buku.

Yaqut Al-Hamawi (1178-1229 Masehi) : Seorang ahli sejarah dan ahli geografi. Beliau tinggal di Halab. Beliau telah mengarang beberapa buah buku, di antara buku yang termasyhurnya ialah “Mu’jam Al-Buldan” [Kamus Kenegaraan].

Minggu, 01 Agustus 2010

10 Nama Sahabat Di Jamin Masuk Surga

Sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga berdasarkan hadits berikut: Tercatat dalam “ARRIYADH ANNADHIRAH FI MANAQIBIL ASYARAH“ dari sahabat Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah masuk ke rumah Aisyah ra dan bersabda: “Wahai Aisyah, inginkah engkau mendengar kabar gembira?” Aisyah menjawab : “Tentu, ya Rasulullah.” Lalu Nabi SAW bersabda, ”Ada sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga, yaitu : Ayahmu masuk surga dan kawannya adalah Ibrahim; Umar masuk surga dan kawannya Nuh; Utsman masuk surga dan kawannya adalah aku; Ali masuk surga dan kawannya adalah Yahya bin Zakariya; Thalhah masuk surga dan kawannya adalah Daud; Azzubair masuk surga dan kawannya adalah Ismail; Sa’ad masuk surga dan kawannya adalah Sulaiman; Said bin Zaid masuk surga dan kawannya adalah Musa bin Imran; Abdurrahman bin Auf masuk surga dan kawannya adalah Isa bin Maryam; Abu Ubaidah ibnul Jarrah masuk surga dan kawannya adalah Idris Alaihissalam.”

Kisah singkat 10 Sahabat

1. Abu Bakar bin Abi Qahafah (As siddiq), adalah seorang Quraisy dari kabilah yang sama dengan Rasulullah, hanya berbeda keluarga. Bila Abu Bakar berasal dari keluarga Tamimi, maka Rasulullah berasal dari keluarga Hasyimi. Keutamaannya, Abu Bakar adalah seorang pedagang yang selalu menjaga kehormatan diri. Ia seorang yang kaya, pengaruhnya besar serta memiliki akhlaq yang mulia. Sebelum datangnya Islam, beliau adalah sahabat Rasulullah yang memiliki karakter yang mirip dengan Rasulullah. Belum pernah ada orang yang menyaksikan Abu Bakar minum arak atau pun menyembah berhala. Dia tidak pernah berdusta. Begitu banyak kemiripan antara beliau dengan Rasulullah sehingga tak heran kemudian beliau menjadi khalifah pertama setelah Rasulullah wafat. Rasulullah selalu mengutamakan Abu Bakar ketimbang para sahabatnya yang lain sehingga tampak menojol di tengah tengah orang lain.

“Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh ummat niscaya akan lebih berat keimanan Abu Bakar. ”(HR. Al Baihaqi)

Al Qur’an pun banyak mengisyaratkan sikap dan tindakannya seperti yang dikatakan dalam firmanNya, QS Al Lail 5-7, 17-21, Fushilat 30, At Taubah 40. Dalam masa yang singkat sebagai Khalifah, Abu Bakar telah banyak memperbarui kehidupan kaum muslimin, memerangi nabi palsu, dan kaum muslimin yang tidak mau membayar zakat. Pada masa pemerintahannya pulalah penulisan AlQur’an dalam lembaran-lembaran dimulai.

2. Umar Ibnul Khattab, ia berasal dari kabilah yang sama dengan Rasulullah SAW dan masih satu kakek yakni Ka’ab bin Luai. Umar masuk Islam setelah bertemu dengan adiknya Fatimah daan suami adiknya Said bin Zaid pada tahun keenam kenabian dan sebelum Umar telah ada 39 orang lelaki dan 26 wanita yang masuk Islam. Di kaumnya Umar dikenal sebagai seorang yang pandai berdiskusi, berdialog, memecahkan permasalahan serta bertempramen kasar. Setelah Umar masuk Islam, da’wah kemudian dilakukan secara terang-terangan, begitupun di saat hijrah, Umar adalah segelintir orang yang berhijrah dengan terang-terangan. Ia sengaja berangkat pada siang hari dan melewati gerombolan Quraisy. Ketika melewati mereka, Umar berkata, ”Aku akan meninggalkan Mekah dan menuju Madinah. Siapa yang ingin menjadikan ibunya kehilangan putranya atau ingin anaknya menjadi yatim, silakan menghadang aku di belakang lembah ini!” Mendengar perkataan Umar tak seorangpun yang berani membuntuti apalagi mencegah Umar. Banyak pendapat Umar yang dibenarkan oleh Allah dengan menurunkan firmanNya seperti saat peristiwa kematian Abdullah bin Ubay (QS 9:84), ataupun saat penentuan perlakuan terhadap tawanan saat perang Badar, pendapat Umar dibenarkan Allah dengan turunnya ayat 67 surat Al Anfal.

Sebagai khalifah, Umar adalah seorang yang sangat memperhatikan kesejahteraan ummatnya, sampai setiap malam ia berkeliling khawatir masih ada yang belum terpenuhi kebutuhannya, serta kekuasaan Islam pun semakin meluas keluar jazirah Arab.

3. Utsman bin Affan, sebuah Hadits yang menggambarkan pribadi Utsman : “Orang yang paling kasih sayang diantara ummatku adalah Abu Bakar, dan paling teguh dalam menjaga ajaran Allah adalah Umar, dan yang paling bersifat pemalu adalah Utsman. (HR Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim, At Tirmidzi) Utsman adalah seorang yang sangat dermawan, dalam sebuah persiapan pasukan pernah Utsman yang membiayainya seorang diri. Setelah kaum muslimin hijrah, saat kesulitan air, Utsmanlah yang membeli sumur dari seorang Yahudi untuk kepentingan kaum muslimin. Pada masa kepemimpinannya Utsman merintis penulisan Al Qur’an dalam bentuk mushaf, dari lembaran-lembaran yang mulai ditulis pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar.

4. Sahabat berikutnya adalah Ali bin Abi Thalib, pemuda pertama yang masuk Islam, ia yang menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidurnya saat beliau hijrah, Ali yang dinikahkan oleh Rasulullah dengan putri kesayangannya Fatimah, Ali yang sangat sederhana kehidupannya.

5. Sahabat kelima yang dijamin oleh Rasulullah SAW masuk surga adalah Thalhah bin Ubaidillah yang pada Uhud terkena lebih dari tujuh puluh tikaman atau panah serta jari tangannya putus. Namun Thalhah yang berperawakan kekar serta sangat kuat inilah yang melindungi Rasulullah disaat saat genting, beliau memapah Rasulullah yang tubuhnya telah berdarah menaiki bukit Uhud yang berada di ujung medan pertempuran saat kaum musyrikin pergi meninggalkan medan peperangan karena mengira Rasulullah telah wafat. Saat itu Thalhah berkata kepada Rasulullah, ”Aku tebus engkau ya Rasulullah dengan ayah dan ibuku.” Nabi tersenyum seraya berkata, ”Engkau adalah Thalhah kebajikan.” Sejak itu Beliau mendapat julukan Burung Elang hari Uhud. Rasulullah pernah berkata kepada para sahabatnya, ”Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa yang senang melihat seorang yang syahid berjalan di muka bumi maka lihatlah Thalhah.”

6. Azzubair bin Awwam, sahabat yang berikutnya, adalah sahabat karib dari Thalhah. Beliau muslim pada usia lima belas tahun dan hjrah pada usia delapan belas tahun, dengan siksaan yang ia terima dari pamannya sendiri. Kepahlawanan Azzubair ibnul Awwam pertama terlihat dalam Badar saat ia berhadapan dengan Ubaidah bin Said Ibnul Ash. Azzubair ibnul Awwam berhasil menombak kedua matanya sehingga akhirnya ia tersungkur tak bergerak lagi, hal ini membuat pasukan Quraisy ketakutan.

Rasulullah sangat mencintai Azzubair ibnul Awwam beliau pernah bersabda, ”Setiap nabi memiliki pengikut pendamping yang setia (hawari), dan hawariku adalah Azzubair ibnul Awwam.” Azzubair ibnul Awwam adalah suami Asma binti Abu Bakar yang mengantarkan makanan pada Rasul saat beliau hijrah bersama ayahnya. Pada masa pemerintahan Umar, saat panglima perang menghadapi tentara Romawi di Mesir Amr bin Ash meminta bala bantuan pada Amirul Mu’minin, Umar mengirimkan empat ribu prajurit yang dipimpin oleh empat orang komandan, dan ia menulis surat yang isinya, ”Aku mengirim empat ribu prajurit bala bantuan yang dipimpin empat orang sahabat terkemuka dan masing-masing bernilai seribu orang. Tahukah anda siapa empat orang komandan itu? Mereka adalah Ubadah ibnu Assamit, Almiqdaad ibnul Aswad, Maslamah bin Mukhalid, dan Azzubair bin Awwam.” Demikianlah dengan izin Allah, pasukan kaum muslimin berhasil meraih kemenangan.

7. Adalah Abdurrahman bin Auf, yang disebutkan berikutnya, adalah seorang pedagang yang sukses, namun saat berhijrah ia meninggalkan semua harta yang telah ia usahakan sekian lama. Namun saat telah di Madinahpun beliau kembali menjadi seorang yang kaya raya, dan saat beliau meninggal, wasiat beliau adalah agar setiap peserta perang Badar yang masih hidup mendapat empat ratus dinar, sedang yang masih hidup saat itu sekitar seratus orang, termasuk Ali dan Utsman. Beliaupun berwasiat agar sebagian hartanya diberikan kepada ummahatul muslimin, sehingga Aisyah berdoa: “Semoga Allah memberi minum kepadanya air dari mata air Salsabil di surga.”

8. Sahabat yang disebutkan berikutnya adalah Saad bin Abi Waqqash, orang pertama yang terkena panah fisabilillah, seorang yang keislamannya sangat dikecam oleh ibunya, namun tetap tabah, dan kukuh pada keislamannya.

9. Said bin Zaid, adik ipar Umar, adalah orang yang dididik oleh seorang ayah yang beroleh bihayah Islam tanpa melalui kitab atau nabi mereka seperti halnya Salman Al Farisi, dan Abu Dzar Al Ghifari. Banyak orang yang lemah berkumpul di rumah mereka untuk memperoleh ketenteraman dan keamanan, serta penghilang rasa lapar, karena Said adalah seorang sahabat yang dermawan dan murah tangan.

10. Nama terakhir yang meraih jaminan surga adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, yang akhirnya terpaksa membunuh ayahnya saat Badar, sehingga Allah menurunkan QS Al Mujadilah : 22. Begitupun dalam perang Uhud, Abu Ubaidahlah yang mencabut besi tajam yang menempel pada kedua rahang Rasulullah, dan dengan begitu beliau rela kehilangan giginya. Abu Ubaidah mendapat gelar dari Rasulullah sebagai pemegang amanat ummat, seperti dalam sabda beliau : “Tiap-tiap ummat ada orang pemegang amanat, dan pemegang amanat ummat ini adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah.”

Sabtu, 12 Juni 2010

Zubir Bin Al-Awwam

Zubir bin Al-Awwam tergolong salah seorang pahlawan Islam yang gagah perkasa dan handal di zaman Rasulullah s.a.w. Keberaniannya dapat disamakan dengan Saiyidina Ali r.a. atau Saiyidina Hamzah bin Abdul Mutalib.

Kisahnya terjadi semasa peperangan Uhud iaitu seorang pahlawan musyrik telah keluar dari tempat pertahanannya ke tengah-tengah medan pertempuran untuk berlawan pedang satu sama satu dengan tentera Islam. Ia menyeru pahlawan-pahlawan Islam datang kepadanya. Tiga kali ia menyeru namun tentera Islam masih berdiam diri juga.

Demi untuk membela maruah tentera Islam, Zubir lantas melompat ke atas untanya, lalu pergi menghadapi musuh yang sudah lama menanti. Sesudah dekat dengan unta musuh, segeralah ia melompat ke atasnya. Maka terjadilah pergelutan yang dahsyat. Tidak lama kemudian, Zubir dapat menggulingkan musuhnya ke bawah. Lantaran itu mudahlah baginya menyembelih leher musuh itu.

Melihat kejadian itu baginda Rasulullah s.a.w. amat gembira sekali seraya berkata: “Setiap nabi mempunyai pembantunya sendiri dan Zubir adalah pembantuku.” Kemudian Rasulullah menyambung lagi, katanya: “Sekiranya Zubir tidak segera keluar mendapatkan musyrik itu, tentulah aku sendiri yang terpakasa keluar mendapatkannya. “Zubir Bin Al-Awwam dialah juga panglima Islam yang kemudiannya berjaya menakluki kota Babylon yang terkenal itu.

Kamis, 05 November 2009

Salahudin Al-Ayubi (1138 - 1193 M)

Shalahuddin Al-Ayubi terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris pada tahun 1137M. Masa kecilnya selama sepuluh tahun dihabiskan belajar di Damaskus di lingkungan anggota dinasti Zangid yang memerintah Syria, yaitu Nur Ad-Din atau Nuruddin Zangi.


Salahudin Al-Ayubi atau tepatnya Sholahuddin Yusuf bin Ayyub, Salah Ad-Din Ibn Ayyub atau Saladin/salahadin (menurut lafal orang Barat) adalah salah satu pahlawan besar dalam tharikh (sejarah) Islam. Satu konsep dan budaya dari pahlawan perang ini adalah perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang kita kenal dengan sebutan maulud atau maulid, berasal dari kata milad yang artinya tahun, bermakna seperti pada istilah ulang tahun. Berbagai perayaan ulang tahun di kalangan/organisasi muslim sering disebut sebagai milad atau miladiyah, meskipun maksudnya adalah ulang tahun menurut penanggalan kalender Masehi.

Selain belajar Islam, Shalahuddin pun mendapat pelajaran kemiliteran dari pamannya Asaddin Shirkuh, seorang panglima perang Turki Seljuk. Kekhalifahan. Bersama dengan pamannya Shalahuddin menguasai Mesir, dan mendeposisikan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimid (turunan dari Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW).

Dinobatkannya Shalahuddin menjadi sultan Mesir membuat kejanggalan bagi anaknya Nuruddin, Shalih Ismail. Hingga setelah tahun 1174 Nuruddin meninggal dunia, Shalih Ismail bersengketa soal garis keturunan terhadap hak kekhalifahan di Mesir. Akhirnya Shalih Ismail dan Shalahuddin berperang dan Damaskus berhasil dikuasai Sholahuddin. Shalih Ismail terpaksa menyingkir dan terus melawan kekuatan dinasti baru hingga terbunuh pada tahun 1181. Shalahuddin memimpin Syria sekaligus Mesir serta mengembalikan Islam di Mesir kembali kepada jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Dalam menumbuhkan wilayah kekuasaannya Shalahuddin selalu berhasil mengalahkan serbuan para Crusader dari Eropa, terkecuali satu hal yang tercatat adalah Shalahuddin sempat mundur dari peperangan Battle of Montgisard melawan Kingdom of Jerusalem (kerajaan singkat di Jerusalem selama Perang Salib). Namun mundurnya Sholahuddin tersebut mengakibatkan Raynald of Châtillon pimpinan perang dari The Holy Land Jerusalem memrovokasi muslim dengan mengganggu perdagangan dan jalur Laut Merah yang digunakan sebagai jalur jamaah haji ke Makkah dan Madinah. Lebih buruk lagi Raynald mengancam menyerang dua kota suci tersebut, hingga akhirnya Shalahuddin menyerang kembali Kingdom of Jerusalem di tahun 1187 pada perang Battle of Hattin, sekaligus mengeksekusi hukuman mati kepada Raynald dan menangkap rajanya, Guy of Lusignan.

Akhirnya seluruh Jerusalem kembali ke tangan muslim dan Kingdom of Jerusalem pun runtuh. Selain Jerusalem kota-kota lainnya pun ditaklukkan kecuali Tyres/Tyrus. Jatuhnya Jerusalem ini menjadi pemicu Kristen Eropa menggerakkan Perang Salib Ketiga atau Third Crusade.

Perang Salib Ketiga ini menurunkan Richard I of England ke medan perang di Battle of Arsuf. Shalahuddin pun terpaksa mundur, dan untuk pertama kalinya Crusader merasa bisa menjungkalkan invincibilty Sholahuddin. Dalam kemiliteran Sholahuddin dikagumi ketika Richard cedera, Shalahuddin menawarkan pengobatan di saat perang di mana pada saat itu ilmu kedokteran kaum Muslim sudah maju dan dipercaya.


Pada tahun 1192 Shalahuddin dan Richard sepakat dalam perjanjian Ramla, di mana Jerusalem tetap dikuasai Muslim dan terbuka kepada para peziarah Kristen. Setahun berikutnya Shalahuddin meninggal dunia di Damaskus setelah Richard kembali ke Inggris. Bahkan ketika rakyat membuka peti hartanya ternyata hartanya tak cukup untuk biaya pemakamannya, hartanya banyak dibagikan kepada mereka yang membutuhkannya.


Data lengkap tentang King Salahudin Al-Ayubi
Memerintah 1174 M. – 4 Maret-1193 M.
Dinobatkan 1174 M.
Nama lengkap Yusuf Ayyubi
Lahir 1138 M. di Tikrit, Iraq
Meninggal 4 Maret-1193 M. di Damaskus, Syria
Dimakamkan Masjid Umayyah, Damaskus, Syria
Pendahulu Nuruddin Zengi
Pengganti Al-Aziz
Dinasti Ayyubid
Ayah Najmuddin Ayyub

Selasa, 02 Juni 2009

Mengenal ABU HURAIRAH radhiyallahu anhu 
Shahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu anhu termasuk salah seorang dari mereka…….Sungguh dia mempunyai bakat luar biasa dalam kemampuan dan kekuatan ingatan …..Abu Hurairah radhiyallahu anhu mempunyai kelebihan dalam seni menangkap apa yang didengarnya, sedang ingatannya mempunyai keistimewaan dalam segi menghafal dan menyimpan…. Didengarya, ditampungnya lalu terpatri dalam ingatannya hingga dihafalkannya, hampir tak pemah ia melupakan satu kata atau satu huruf pun dari apa yang telah didengarnya, sekalipun usia bertambah dan masa pun telah berganti-ganti. Oleh karena itulah, ia telah mewakafkan hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah sehingga termasuk yang terbanyak menerima dan menghafal Hadits, serta meriwayatkannya. Sewaktu datang masa pemalsu-pemalsu hadits yang dengan sengaja membikin hadits-hadits bohong dan palsu, seolah-olah berasal dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam . mereka memperalat nama Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan menyalahgunakan ketenarannya dalam meriwayatkan Hadits dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam., hingga sering mereka mengeluarkan sebuah “hadits”, dengan menggunakan kata-kata: — “Berkata Abu Hurairah… “

Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan ketenaran Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan kedudukannya selaku penyampai Hadits dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. menjadi lamunan keragu-raguan dan tanda tanya, kalaulah tidak ada usaha dengan susah payah dan ketekunan yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah di habiskan oleh tokoh-tokoh utama para ulama Hadits yang telah membaktikan hidup mereka untuk berhidmat kepada Hadits Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan ke dalamnya:’

Di sana Abu Hurairah radhiyallahu anhu berhasil lolos dari jaringan kepalsuan dan penambahan-penambahan yang sengaja hendak diselundupkan oleh kaum perusak ke dalam Islam, dengan mengkambing hitamkan Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan membebankan dosa dan kejahatan mereka kepadanya……

Setiap anda mendengar muballigh atau penceramah atau khatib Jum’at mengatakan kalimat yang mengesankan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata ia, telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ……” Saya katakan ketika andamendengar nama ini dalam rangkaian kata tersebut, dan ketika anda banyak menjumpainya, yah banyak sekali dalam kitab-kitab Hadits, sirah, fiqih serta kitab-kitab Agama pada umumnya, maka diketahuilah bahwa anda sedang menemui suatu pribadi, antara sekian banyak pribadi yang paling gemar bergaul dengan Rasulullah dan mendengarkan sabdanya…..Karena itulah perbendaharaannya yang menakjubkan dalam hal Hadits dan pengarahan-pengarahan penuh hikmat yang dihafalkannya dari Nabi•Shalallahu ‘alaihi wasallam. jarang diperoleh bandingannya … Dan dengan bakat pemberian Tuhan yang dipunyainya beserta perbendaharaan Hadits tersebut, Abu Hurairah radhiyallahu anhu merupakan salah seorang paling mampu membawa anda ke hari-hari kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabatnya dan membawa anda berkeliling, asal anda beriman teguh dan berjiwa siaga, mengitari pelosok dan berbagai ufuk yang membuktikan kehebatan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. beserta shahabat-shahabatnya itu dan memberikan makna kepada kehidupan ini dan memimpinnya ke arah kesadaran dan pikiran sehat. Dan bila garis-garis yang anda hadapi ini telah menggerakkan kerinduan anda untuk mengetahui lebih dalam tentang Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan mendengarkan beritanya, maka silakan anda memenuhi keinginan anda tersebut……

Ia adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi Islam, dengan segala perubahan mengagumkan yang diciptakannya. Dari orang upahan menjadi induk semang atau majikan…..

Dari seorang yang terlunta-lunta di tengah-tengah lautan manusia, menjadi imam dan ikutan …. ! Dan dari seorang yang sujud di hadapan batu-batu yang disusun, menjadi orang yang beriman kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa …. Inilah dia sekarang bercerita dan berkata: -

“Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin …. Aku menerima upah sebagai pembantu pada Busrah binti Ghazwan demi untuk mengisi perutku • • ! Akulah yang melayani keluarga itu bila mereka sedang menetap dan menuntun binatang tunggangannya bila sedang bepergian …. Sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Busrah, maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah radhiyallahu anhu ikutan ummat…..!”

Ia datang kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam di tahun yang ke tujuh Hijrah sewaktu beliau berada di Khaibar ia memeluk Islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan …. Dan semenjak ia bertemu dengan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam; dan berbai’at kepadanya, hampir-hampir ia tidak berpisah lagi daripadanya kecuali pada saat-saat waktu tidur …. Begitulah berjalan selama masa empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam . yakni sejak ia masuk islam sampai wafatnya Nabi, pergi ke sisi Yang Maha Tinggi. Kita katakan: “Waktu yang empat tahun itu tak ubahnya bagai suatu usia manusia yang panjang lebar, penuh dengan segala yang baik, dari perkataan, sampai kepada perbuatan dan pendengaran… !’

Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah radhiyallahu anhu mendapat kesempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memainkan peranan penting dalam berbakti kepada Agama Allah.

Pahlawan perang dikalangan shahabat, banyak….

Ahli fiqih, juru da’wah dan para guru juga tidak sedikit ….

Tetapi lingkungan dan masyarakat memerlukan tulisan dan penulis. Di masa itu golongan manusia pada umumnya,jadi bukan hanya terbatas pada bangsa Arab saja, tidak mementingkan tulis menulis. Dan tulis menulis itu belum Lagi merupakan bukti kemajuan di masyarakat manapun.

Bahkan Eropah sendiri juga demikian keadaannya sejak kurun waktu yang belum lama ini. Kebanyakan dari raja-rajnya, tidak terkecuali Charlemagne sebagai tokoh utamanya, adalah orang-orang yang buta huruf, tak tahu tulis baca, padahal menurut ukuran masa itu, mereka memiIiki kecerdasan dan kemampuan besar….

Kembali kita pada pembicaraan bermula untuk melihat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, baganana ia dengan fitrahnya dapat menyelami kebutuhan masyarakat baru yang dibangun oleh Islam, yaitu kebutuhan akan orang-orang yang dapat melihat dan memelihara peninggalan dan ajaran-ajarannya. Pada waktu itu memang para shahabat yang mampu menulis, tetapi jumlah mereka sedikit sekali, apalagi sebagiannya tak mempunyai kesempatan untuk mencatat Hadits-hadits yang diucapkan oleh Rasul.

Sebenamya Abu Hurairah radhiyallahu anhu bukanlah seorang penulis, ia hanya seorang ahli hafal yang mahir, di samping memiliki kesempata atau mampu mengadakan kesempatan yang diperlukan itu, karena ia tak punya tanah yang akan digarap, dan tidak punya perniagaan yang akan diurus….

Ia pun menyadari bahwa dirinya termasuk orang yang masuk Islam belakangan, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalannya, dengan cara mengikuti Rasul terus menerus dan secara tetap menyertai majlisnya .. Kemudian disadarinya pula adanya bakat pemberian Allah ini pada dirinya, berupa daya ingatannya yang luas dan kuat, serta semakin bertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan do’a Rasul “”•, agar pemilik bakat ini diberi Allah berkat.

Ia menyiapkan dirinya dan menggunakan bakat dan kemampuan karunia Ilahi untuk memikul tanggung jawab dan memelihara peninggalan yang sangat penting ini dan mewariskannya kepada generasi kemudian ….

Abu Hurairah radhiyallahu anhu bukan tegolong dalam barisan penulis, tetapi sebagaimana telah kita utarakan, ia adalahseorang yang terampil menghafal lagi kuat ingatan …. Karena ia tak punya tanah yang akan ditanami atau perniagaan yang akan menyibukkannya, ia tidak berpisah hengan Rasul, baik dalam perjalanan maupun di kala menetap….

Begitulah ia mempermahir dirinya dan ketajaman daya ingatnya untuk menghafal Hadits-hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan pengarahannya. Sewaktu Rasul telah pulang ke Rafikul’Ala (wafat), Abu Hurairah radhiyallahu anhu terus-menerus menyampaikan Hadits hadits, yang menyebabkan sebagian shahabatnya merasa heran sambil bertanya-tanya di dalam hati, dari mana datangnya hadits-hadits ini, kapan didengarya dan diendapkannya dalam ingatannya ….

Abu Hurairah radhiyallahu anhu telah memberikan penjelasan untuk menghilangkan kecurigaan ini, dan menghapus keragu-raguan yang menulari putra shahabatnya, maka katanya: “Tuan-tuan telah mengatakan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu anhu banyak sekali mengeluarkan Hadits dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam…. Dan tuan-tuan katakan pula orang-orang Muhajirin yang lebih dahulu daripadanya masuk Islam, tak ada menceritakan hadits-hadits itu…..? Ketahuilah, bahwa shahabat-sahahabatku orang-orang Muhajirin itu, sibuk dengan perdagangan mereka di pasar-pasar, sedang shahabat-shahabatku orang-orang Anshar sibuk degan tanah pertanian mereka…..Sedang aku adalah seorang miskin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka aku hadir sewaktu yang lain absen …dan aku selalu ingat seandainya mereka lupa karena kesibukan…

Dan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. pernah berbicara kepada kami di suatu hari, kata beliau: “Siapa yang membentangkan sorbannya hingga selesai pembicraanku, kemudian ia meraihnya ke dirinya, maka ia takkan terlupa akan suatu pun dari apa yang telah didengarya dari padaku,.. !”

Maka kuhamparkan kainku, lalu beliau berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu ke diriku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah kudengar daripadanya … ! Demi Allah kalau tidaklah karena adanya ayat di dalam Kitabullah niscaya tidak akan kukabarkan kepada kalian sedikit jua pun! Ayat itu ialah: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, sesudah Kami nyatakan kepada manusia di dalam Kitab mereka itulah yang dikutuk oleh Allah dan dikutuk oleh para pengutuk (Malaikat-malaikat) ….. !”

Demikianlah Abu Hurairah radhiyallahu anhu menjelaskan rahasia kenapa hanya ia seorang diri yang banyak mengeluarkan riwayat dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam . 

Yang pertama: karena ia melowongkan waktu untuk menyertai Nabi lebih banyak dari para shahabat lainnya.

Kedua, karena ia memiliki daya ingatan yang kuat, yang telah diberi berkat oleh Rasul, hingga ia jadi semakin kuat….

Ketiga, ia menceritakannya bukan karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan hadits-hadits ini, merupakan tanggung jawabnya terhadap Agama dan hidupnya. Kalau tidak dilakukannya berarti ia menyembunyikan kebaikan dan haq, dan termasuk orang yang lalai yang sudah tentu akan menerima hukuman kelalaiannya … !

Oleh sebab itulah ia harus saja memberitakan, tak suatupun yang menghalanginya dan tak seorang pun boleh melarangnya … hingga pada suatu hari Amirul Mu’minin Umar berkata kepadanya: “Hendaklah kamu hentikan menyampaikan berita dari Rasulullah! Bila tidak, maka akan kukembalikan kau ke tanah Daus… !” (yaitu tanah kaum dan keluarganya).

Tetapi larangan ini tidaklah mengandung suatu tuduhan bagi Abu Hurairah radhiyallahu anhu, hanyalah sebagai pengukuhan dari.suatu pandangan yang dianut oleh Umar, yaitu agar orang-orang Islam dalam jangka waktu tersebut, tidak membaca dan menghafalkan yang lain, kecuali al-quran sampai ia melekat dan mantap dalam hati sanubari dan pikiran….

Al-quran adalah kitab suci Islam, Undang-undang Dasar dan kamus lengkapnya dan terlalu banyaknya’ cerita tentang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam . teristimewa lagi pada tahun-tahun menyusul wafatnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam., saat sedang dihimpunnya Al-Quran, dapat menyebabkan kesimpangsiuran dan campur-baur yang tidak berguna dan tak perlu terjadi

Oleh karena ini, Umar berpesan: “Sibukkanlah dirimu dengan Al-Quran karena dia adalah kalam Allah…”‘•. Dan katanya lagi : “Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah kecuali yang mengenai amal perbuatannya!”

Dan sewaktu beliau mngutus Abu Musa al-Asy’ari ke Irak ia berpesan,kepadanya: — ‘Sesungguhnya anda akan mendatangi suatu kaum yang dalam mesjid mereka terdengar bacaan al-quran seperti suara lebah. maka biarkanlah seperti itu dan jangan anda binbangkan merek adengan hadits-hadits, dan aku menjadi pendukung anda dalam hal ini….!”

Al-qur’an sudah dihimpun dengan jalan yang sangat cermat, hingga terjamin keasliannya tanpa dirembesi oleh hal-hal lainnya….. Adapun hadits, maka umar tidak dapat menjamin bebasnya dari pemalsuan atau perubahan atau diambilnya sebagai alat untuk mengada-ada terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan merugikan Agama Islam…..

Abu Hurairah radhiyallahu anhu menghargai pandangan Umar, tetapi ia juga percaya terhadap dirinya dan teguh memenuhi amanat, hingga ia tak hendak menyembunyikan suatu pun dari Hadits dan ilmu selama diyakininya bahwa menyembunyikannya adalah dosa dan kejahatan.

Demikianlah, setiap ada kesempatan untuk menumpahkan isi dadanya berupa Hadits yang pemah didengar dan ditangkapnya tetap saja disampaikan dan dikatakannya….

Hanya terdapat pula suatu hal yang merisaukan, yang menimbulkan kesulitan bagi Abu Hurairah radhiyallahu anhu ini, karena seringnya ia bercerita dan banyaknya Haditsnya yaitu adanya tukang hadits yang lain yang menyebarkan Hadits-hadits dari Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam. dengan menambah-nambah dan melebih-lebihkan hingga para shahabat tidak merasa puas terhadap sebagian besar dari Hadits-haditsnya. Orang itu namanya Ka’ab al-ahbaar, seorang Yahudi yang masuk Islam.

Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan menghafal dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Maka dipanggilnya ia dan dibawanya duduk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengabarkan hadits-hadits dari Rasusullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sementara itu disuruhnya penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari balik dinding. Sesudah berlalu satu tahun, dipanggilnya Abu Hurairah kembali dan dimintanya membacakan lagi Hadits-hadits yang dulu itu yang telah ditulis sekretarisnya. Ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu walau agak sepatah kata pun.Ia berkata tentang dirinya: — “Tak ada seorang pun dari sahabat-sahabat Rasul yang lebih banyak menghafal Hadits dari padaku, kecuali Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, karena ia pandai menuliskannya sedang aku tidak ..; “. Dan Imam Syafi’i mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah radhiyallahu anhu: — “la seorang yang paling banyak hafal di antara seluruh perawi Hadits sesamanya”. Sementara Imam Bukhari menyatakan pula: –”Ada delapan ratus orang atau lebih dari shahabat tabi’in dan ahli ilmu yang meriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah”.

Abu Wuiairah termasuk orang ahli ibadat yang mendekatkan diri kepada Allah, selalu melakukan ibadat bersama isterinya dan anak-anaknya semalam-malaman secara bergiliran; mula-mula ia berjaga sambil shalat sepertiga malam kemudian dilanjutkan oleh isterinya sepertiga malam dan sepertiganya lagi dimanfaatkan oleh puterinya… ” Dengan demikian, tak ada satu saat pun yang berlalu setiap malam di rumah Abu Hurairah radhiyallahu anhu, melainkan berlangsung di sana ibadat, dzikir dan shalat!

Karena keinginannya memusatkan perhatian untuk menyertai Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam. ia pernah menderita kepedihan lapar yang jarang diderita orang lain. Dan pernah ia menceritakan kepada kita bagaimana rasa lapar telah menggigit-gigit perutnya, maka diikatkannya batu dengan surbannya ke perutnya dan ditekannnya ulu hatinya dengan kedua tangannya, lalu terjatuhlah ia di mesjid rambil menggeliat-geliat kesakitan hingga sebagian sahabat menyangkanya ayan, padahal sama sekali bukan .. .!

Semenjak ia menganut Islam tak ada yang memberatkan dan menekan perasaan Abu Huraiiah dari berbagai persoalan hidupnya ini, kecuali satu masalah yang hampir menyebabkannya tak dapat memejamkan mata. Masalah itu ialah mengenai ibunya, karena waktu itu ia menolak untuk masuk Islam …. Bukan hanya sampai di sana saja, bahkan ia menyakitkan perasaannya dengan menjelek-jelekkan Rasulullah di depannya…

Pada suatu hari ibunya itu kembali mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan bagi Abu Hurairah radhiyallahu anhu tentang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ., hingga ia tak dapat menahan tangisnya dikarenakan sedihnya, lalu ia pergi ke mesjid Rasul….Marilah kita dengarkan ia menceritakan lanjutan berita kejadian itu sebagai berikut:

Sambil menangis aku datang kepada Rasulullah, lalu kataku: –”Ya Rasulallah, aku telah meminta ibuku masuk islam, Ajaranku itu ditolaknya, dan hari ini aku pun baru saja, memintanya masuk Islam. Sebagai jawaban ia malah mengeluarkan kata-kata yang tak kusukai terhadap diri Anda. Karenanya mohon anda du’akan kepada Allah kiranya ibuku itu ditunjuki-Nya kepada Islam….”

Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam . berdu’a: “Ya Alloh tunjukkilah ibu Abu Hurairah!”

Aku pun berlari mendapatkan ibuku untuk menyampaikan kabar gembira tentang du’a Rasulullah itu. Sewaktu sampai di muka pintu, kudapati pintu itu terkunci. Dari luar kedengaran hunyi gemercik air, dan suara ibu memanggilku: “Hai Abu Hurairah, tunggulah ditempatmu itu… !”

Di waktu ibu keluar ia memakai baju kurungnya, dan membalutkan selendangnya sambil mengucapkan: “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh

Aku pun segera berlari menemui Rasulullah. sambil menangis karena gembira, sebagaimana dahulu aku menangis karena berduka, dan kataku padanya: “Kusampaikan kabar suka ya Rasulallah, bahwa Allah telah mengabullkan du’a anda …, Allah telah menunjuki ibuku ke dalam islam … “. Kemudian kataku pula: “Ya Rasulallah, mohon anda du’akan kepada Allah, agar aku dan ibuku dikasihi oleh orang-orang Mu’min, baik laki-laki maupun perempuan!” Maka Rasul berdu’a: “Ya Allah, mohon engkau jadikan hambu-Mu ini beserta ibunya dikasihi oleh sekalian orang-orang Mumin, laki-laki dan perempuan …!”

Abu Hurairah radhiyallahu anhu hidup sebagai seorang ahli ibadah dan seorang mujahid … tak pernah ia ketinggalan dalam perang, dan tidak pula dari ibadat. Di zaman Umar bin Khatthab ia diangkat sebagai amir untuk daerah Bahrain, sedang Umar sebagaimana kita ketahui adalah seorang yang sangat keras dan teliti terhadap pejabat-pejabat yang diangkatnya. Apabila ia mengangkat seseorang sedang ia mempunyai dua pasang pakaian maka sewaktu meninggalkan jabatannya nanti haruslah orang itu hanya mempunyai dua pasang pakaian juga…… malah lebih utama kalau ia hanya memiliki satu pasang saja! Apabila waktu meninggalkan jabatan itu terdapat tanda-tanda kekayaan, maka ia takkan luput dari interogasi Umar, sekalipun kekayaan itu berasal dari jalan halal yang dibolehkan syara’! Suatu dunia lain …. Yang diisi oleh Umar dengan hal-hal luar biasa dan mengagumkan… Rupanya sewaktu Abu Hurairah memangku jabatan sebagai kepala daerah Bahrain ia telah menyimpan harta yang berasal dari sumber yang halal. Hal ini diketahui oleh Umar, maka iapun dipanggilnya datang ke Madinah……Dan mari kita dengarkan Abu Hurairah, memaparkan soal jawab ketus yang berlangsung antaranya dengan Amirul Mu’minin Umar: — Kata Umar: – “Hai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah mencuri harta Allah?’• Jawabku;. “Aku bukan musuh Allah dan tidak pula musuh kitab-Nya ._.hanya aku menjadi musuh orang yang memusuhi keduanya dan aku bukanlah orang yang mencuri harta Allah . . !’•- Dari mana,kau peroleh sepuluh ribu itu? — Kuda kepunyaanku beranak-pinak dan pemberian orang berdatangan …. Kembalikan harta itu ke perbendaharaan negara (baitul maal)… !

Abu Hurairah menyerahkan hartanya itu kepada Umar, kemudian ia mengangkat tangannya ke arah langit sambil berdu’a: “Ya Allah, ampunilah Amirul Mu’minin

Tak selang beberapa lamanya. Umar memanggil Abu Hurairah kembali dan menawarkan jabatan kepadanya di wilayah baru. Tapi ditolaknya dan dimintanya maaf karena tak dapat menerimanya. Kata Umar kepadanya: — “Kenapa, apa sebabnya?” Jawab Abu Hurairah: “Agar kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku tidak dirampas, punggungku tidak dipukul… !”

Kemudian katanya lagi: “Dan aku takut menghukum tanpa ilmu dan bicara tanpa belas kasih … !”

Pada suatu hari sangatlah rindu Abu Hurairah radhiyallahu anhu hendak bertemu dengan Allah …. Selagi orang-orang yang mengunjunginya mendu’akannya cepat sembuh dari sakitnya, ia sendiri berulang-ulang memohan kepada Allah dengan berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah sangat rindu hendak bertemu dengan-Mu,

Semoga Engkau pun demikian … !” Dalam usia 78 tahun, tahun yang ke-59 Hijriyah ia pun berpulang ke rahmatullah.

Di sekeliling orang-orang shaleh penghuni pandam pekuburan Baqi’, di tempat yang beroleh berkah, di sanalah jasadnya dibaringkan … ! Dan sementara orang-orang yang mengiringkan jenazahnya kembali dari pekuburan, mulut dan lidah mereka tiada henti-hentinya membaca Hadits yang disampaikan Abu Hurairah kepada mereka dari Rasul yang mulia……..

Salah seorang di antara mereka yang baru masuk islam bertanya kepada temannya: “Kenapa syekh kita yang telah berpulang ini diberi gelar Abu Hurairah (bapak kucing)? Tentutemannya yang telah mengetahui akan menjawabnya: •’Di waktu jahiliyah namanya dulu Abdu Syamsi, dan tatkala ia memeluk Islam, ia diberi nama oleh Rasul dengan Abdurrahman. Ia sangat penyayang kepada binatang dan mempunyai seekor kucing, yang selalu diberinya makan, digendongnya, dibersihkannya dan diberinya tempat. Kucing itu selalu menyertainya seolah-olah bayang bayangnya. Inilah sebabnya ia diheri gelar “Bapak Kucing”, moga-moga Allah ridla kepadanya dan menjadikannya ridla kepada Allah……..!
(Dikutip dari: Rijal Haular Rasul))